Filipina Pecat Dubes yang Terekam Lakukan Kekerasan pada ART

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 11:56 WIB
In this March 30, 2020, photo provided by the Malacanang Presidential Photographers Division, Philippine President Rodrigo Duterte smiles as he addresses the nation during a live broadcast in Malacanang, Manila, Philippines. Duterte is on quarantine for more than a week after meeting with officials who have been exposed to people infected with the coronavirus. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death. (King Rodriguez, Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (Foto: King Rodriguez, Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Manila - Pemerintah Filipina memecat Duta Besarnya (Dubes) untuk Brasil, setelah dia tertangkap kamera sedang menyerang asisten rumah tangga (ART) di kediaman resmi Dubes di Brasilia, ibu kota Brasil.

Diketahui, Dubes Filipina untuk Brasil, Marichu Mauro ditarik pulang ke Manila pada akhir tahun lalu setelah media GloboNews Brasil menyiarkan rekaman kamera CCTV mengenai dirinya. Selama delapan bulan, rekaman itu menunjukkan perbuatan Mauro yang melakukan kekerasan terhadap pekerja di kediamannya.

"Diplomat itu sekarang telah dipecat dari Dinas Luar Negeri," kata Presiden Filipina, Rodrigo Duterte pada Senin (1/3) waktu setempat.

"Ada aturan yang harus diikuti. Jika Anda tidak patuh, Anda mengambil risiko. Jika terjadi kesalahan, Anda akan terkena dampaknya," kata Duterte seperti dilansir AFP, Selasa (2/3/2021).

Pemecatan Mauro berarti dia akan kehilangan uang pensiunnya. Dia juga dilarang untuk bekerja dalam jabatan publik.

Menurut GloboNews, ART asal Filipina itu dipekerjakan di kediaman resmi sang Dubes, sebuah kompleks berpagar besar di ibu kota Brasil. Disebutkan, rekaman kekerasan tersebut - bertanggal antara Maret-Oktober 2020 - digunakan sebagai bukti dalam pengaduan yang diajukan ke pemerintah Filipina terhadap Mauro.

Mauro ditugaskan ke Brasil pada 2018, di mana ia mengawasi misi ke Kolombia, Guyana, Suriname, dan Venezuela.

Jutaan orang Filipina memilih bekerja di luar negeri akibat upah rendah, pengangguran, dan kesempatan terbatas di negaranya. Mereka kebanyakan bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Upah mereka dari luar negeri sangat meningkatkan perekonomian negara.

Meski begitu, banyak dari pekerja menghadapi kondisi yang sulit atau berbahaya, dan laporan tentang pelecehan fisik atau psikologis sering terjadi.

Simak juga video 'Polisi Filipina Tembak Kepala Ibu-Anak, Duterte: Sangat Brutal':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/ita)