Iran Sebut Serangan Udara AS di Suriah Dorong Terorisme

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 18:30 WIB
bendera iran as
Ilustrasi (dok. Getty Images/AFP)
Teheran -

Otoritas Iran menyebut serangan udara Amerika Serikat (AS) terhadap milisi pro-Iran di Suriah bagian timur, pada Jumat (26/2) waktu setempat, mendorong terorisme di kawasan. Kementerian Luar Negeri Iran secara terpisah menyebut serangan AS itu melanggar HAM dan hukum internasional.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (27/2/2021), otoritas AS sebelumnya menyebut pihaknya menyerang posisi kelompok paramiliter Kataeb Hezbollah dan Kataeb Sayyid al-Shuhada, dua milisi Irak pro-Iran yang beroperasi di bawah Hashed. Kedua milisi itu diyakini mendalangi rentetan serangan roket terhadap tentara AS di Irak beberapa waktu lalu.

"Tindakan Amerika baru-baru ini memperkuat dan memperluas aktivitas teroris Daesh (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) di kawasan," tuduh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Shamkhani.

"Serangan terhadap pasukan perlawanan antiteroris merupakan awal dari babak baru terorisme terorganisasi," cetusnya seperti dikutip media Iran, Nour News.

"Kita akan mengkonfrontasi rencana AS untuk membangkitkan kembali terorisme di kawasan," imbuh Shamkhani tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Komentar itu disampaikan Shamkhani saat menyambut Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, yang berkunjung ke Iran. Kunjungan ini merupakan yang kedua kali dilakukan Hussein dalam sebulan terakhir. Kunjungan Hussein ini dimaksudkan untuk 'membahas perkembangan kawasan, termasuk menyeimbangkan hubungan dan menghindari ketegangan' dengan Iran.

Dalam pernyataan terpisah, seperti dilansir AFP, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan 'kecaman keras' terhadap serangan udara AS di Suriah. Disebutkan bahwa serangan semacam itu berisiko 'meningkatkan konflik militer' di kawasan.

"Mengecam keras serangan ilegal oleh pasukan AS di area-area di Suriah bagian timur yang jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional," sebut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh.

Selanjutnya
Halaman
1 2