Round Up

Makin Tegang di Wilayah Sengketa saat Pangkalan Militer Dibangun China

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 05:09 WIB
A satellite image of Mischief Reef taken on November 15. AMTI says two of the four structures have been completed, with covers already placed over the systems installed there. (CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/Digital Globe)
Ilustrasi (Foto: CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/Digital Globe)
Manila -

China kembali mengambil langkah maju dengan membangun pangkalan 'militer besar-besaran' di dalam pulau-pulau buatan kontroversial yang dibangun di perairan Laut China Selatan yang menjadi sengketa. Temuan itu ditemukan oleh sejumlah citra satelit yang menangkap proses 'pembangunan' itu.

Seperti dilansir news.com.au, Senin (22/2/2021), laporan terbaru perusahaan software geospasial, Simularity, yang didasarkan pada citra-citra satelit mengungkapkan objek yang diduga infrastruktur untuk radar, antena dan apa yang diyakini mengarah pada sebuah pangkalan militer di Mischief Reef.

Citra satelit itu menunjukkan aktivitas pembangunan pangkalan militer China di tujuh area yang ada di Mischief Reef antara Mei 2020 hingga Februari 2021.

Salah satu citra satelit tertanggal 7 Mei 2020 jelas menunjukkan sebidang tanah kosong, yang kini ditempati struktur berbentuk silinder dengan lebar 16 meter, yang diklaim oleh Simularity sebagai 'dugaan struktur pemasangan antena'.

Citra satelit lainnya juga menunjukkan struktur beton dengan kubah bulat -- penutup tahan cuaca yang biasa digunakan untuk melindungi antena radar -- di dekatnya. Laporan Simularity menyebut bahwa ini 'diduga sebagai struktur radar yang sudah selesai'.

Area lainnya di Mischief Reef disebut masih dalam tahap pembangunan atau telah 'dibersihkan' untuk pembangunan lebih lanjut.

Mischief Reef yang diklasifikasikan sebagai atol -- pulau karang berbentuk lingkaran dengan di bagian tengah terdapat danau atau laguna -- diketahui terletak di perairan berjarak 250 kilometer dari wilayah Filipina. Daratan itu telah diduduki dan dikuasai China sejak tahun 1995 lalu.

Direktur Institut Urusan Maritim dan Hukum Laut pada Universitas Filipina, Dr Jay Batongbacal, menyebut infrastruktur baru itu menunjukkan bahwa China memperkuat posisinya.

"Mereka pada dasarnya menambahkan perlengkapan lensa survei, tampaknya radar -- sudah ada banyak di pulau karang itu sejak awal," tuturnya kepada televisi Filipina, ANC.

Lihat juga video 'Menlu Bantah RI Jadi Pangkalan Militer China':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2