Tragis! 6 Anak Tewas Saat Bermain-main dengan Bom Tua di Uganda

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 18:46 WIB
FILE - In this Sunday, Aug. 28, 2016 file photo, a health official administers a polio vaccine to a child at a camp for people displaced by Islamist Extremists, in Maiduguri, Nigeria. Health authorities on Tuesday, Aug. 25, 2020 are expected to declare the African continent free of the wild poliovirus after decades of effort, though cases of vaccine-derived polio are still sparking outbreaks of the paralyzing disease in more than a dozen countries. (AP Photo/Sunday Alamba, File)
Ilustrasi (Foto: AP Photo/Jerome Delay)
Kampala -

Tragis! Enam anak tewas dan lima anak lainnya luka-luka saat bermain-main dengan bahan peledak tua di Uganda. Menurut polisi, mereka menemukan bom di semak-semak dan tiba-tiba meledak saat dimainkan.

Seperti dilansir AFP, Kamis (18/2/2021), tiga anak tewas seketika di tempat kejadian, sementara tiga anak lainnya meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit di Adjumani, distrik di wilayah Nil Barat. Wilayah itu telah menghadapi konflik dan pemberontakan selama bertahun-tahun.

"Anak-anak itu sedang bermain di semak-semak ketika mereka menemukan sebuah benda, dan benda itu meledak saat mereka bermain-main dengannya," kata juru bicara kepolisian wilayah setempat, Josephine Angucia.

"Penyelidikan awal menunjukkan bahwa ledakan itu berasal dari granat tangan yang ditinggalkan selama pemberontakan Lord's Resistance Army (LRA) yang berdampak pada wilayah Nil Barat, dan khususnya, Adjumani yang sangat terdampak," imbuhnya.

Lima anak terluka parah dan dirawat di rumah sakit distrik, kata Angucia.

Kejadian itu adalah kecelakaan fatal kedua di Adjumani dalam waktu kurang dari dua minggu yang melibatkan sisa-sisa amunisi. Juru bicara polisi menyebut ledakan lainnya juga terjadi dan menewaskan dua orang.

Pada tahun 1990-an, pasukan pemerintah memerangi pemberontak dari Front Tepi Nil Barat dan LRA di seluruh Uganda utara, di mana banyak korban dari warga sipil berjatuhan.

Front Tepi Barat Nil dihancurkan pada akhir dekade tetapi LRA bertahan. LRA melakukan pemberontakan 'berdarah' terhadap Presiden Yoweri Museveni hingga dipaksa keluar dari Uganda pada tahun 2006.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan LRA telah menewaskan lebih dari 100.000 orang dan menculik 60.000 anak-anak. Kampanye kekerasan itu juga menyebar ke luar Uganda seperti Sudan, Republik Demokratik Kongo dan Republik Afrika Tengah.

Saksikan juga 'Bom Meledak di Dekat Istana Kepresidenan Somalia':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/ita)