AS Dakwa 3 Pejabat Korut Atas Serangan Siber untuk Curi Rp 18 T

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 09:51 WIB
Peretas Bayaran Hantui Politik dan Bisnis di Timur Tengah
Ilustrasi (dok. DW News)
Washington DC -

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mendakwa tiga pejabat intelijen militer Korea Utara (Korut) terkait operasi serangan siber untuk mencuri US$ 1,3 miliar (Rp 18,2 triliun). Dakwaan ini menjadi langkah tegas pertama pemerintahan Presiden Joe Biden terhadap rezim Korut.

Seperti dilansir AFP, Kamis (18/2/2021), pencurian dunia maya oleh para peretas Korut itu dilakukan dalam bentuk crypto dan mata uang tradisional dari berbagai bank dan target lainnya. Departemen Kehakiman AS menyebut aktivitas Korut sebagai 'kampanye kriminalitas global'.

Departemen Kehakiman AS mendakwa ketiga pejabat intelijen Korut itu melakukan operasi peretasan dan malware yang luas untuk mendapatkan dana bagi pemerintah mereka, sembari menghindari sanksi-sanksi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang memutus sumber pendapatan negara itu.

Disebutkan Departemen Kehakiman AS bahwa selama lebih dari tujuh tahun, pejabat-pejabat intelijen Korut itu membuat aplikasi cryptocurrency yang membuka akses 'pintu belakang' ke komputer-komputer targetnya.

Mereka melakukan peretasan terhadap perusahaan-perusahaan yang memasarkan dan memperdagangkan mata uang digital seperti bitcoin, dan mengembangkan platform blockchain untuk menghindari sanksi dan secara diam-diam mengumpulkan dana.

Kasus yang diajukan ke pengadilan federal di Los Angeles ini didasarkan pada dakwaan tahun 2018 terhadap salah satu dari tiga pejabat Korut yang diidentifikasi sebagai Park Jin Hyok. Dia didakwa meretas Sony Pictures tahun 2014, menciptakan ransomware WannaCry dan melakukan pencurian sebesar US$ 81 juta dari Bank Sentral Bangladesh. Dakwaan-dakwaan baru menambahkan dua terdakwa, yakni Jon Chang Hyok dan Kim Il.

Dakwaan baru itu menuduh ketiganya bekerja bersama dalam Biro Umum Pengintaian yang fokus pada tugas peretasan di tubuh intelijen militer Korut. Biro itu juga dikenal sebagai Lazarus Group atau APT 38 oleh komunitas keamanan siber.

Selain dakwaan sebelumnya, ketiga peretas Korut itu diduga beroperasi dari Korut, Rusia dan China untuk meretas komputer menggunakan teknik spearfishing, dan mempromosikan aplikasi mata cryptocurrency yang bermuatan software berbahaya yang memungkinkan untuk mengosongkan dompet mata uang digital korban.

Lihat Video: Presiden Korsel ke Biden: Belajar dari Kegagalan Trump dengan Korut

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2