Trump Serang Senator Senior Republikan yang Mengkritiknya

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 10:22 WIB
U.S. Senate Majority Leader Mitch McConnell (R-KY) walks back to his office after voting for a continuing resolution and end a three-day government shutdown on Capitol Hill in Washington, U.S., January 22, 2018. REUTERS/Leah Millis
Senator senior Republikan, Mitch McConnell (dok. REUTERS/Leah Millis)
Washington DC -

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyerang Senator senior Partai Republik, Mitch McConnell, yang mengkritik dirinya usai sidang pemakzulan. Trump mendorong para Senator Republikan untuk mencampakkan McConnell sebagai pemimpin mereka di Senat.

Seperti dilansir AFP, Rabu (17/2/2021), McConnell yang menjabat pemimpin minoritas Senat untuk Partai Republik ini diketahui mengkritik Trump meski memvoting untuk membebaskannya dari dakwaan menghasut pemberontakan dalam sidang pemakzulan di Senat AS, pekan lalu.

Hubungan Trump dan McConnell memburuk dalam beberapa bulan terakhir, setelah mereka bekerja sama dengan erat selama empat tahun kepemimpinan Trump.

Dalam komentarnya paling panjang sejak mengakhiri jabatannya pada 20 Januari lalu, Trump juga mengklaim berjasa atas hasil yang dicapai para Senator Republikan dalam pemilu 3 November 2020 dan mengancam untuk memakai pengaruhnya terhadap setiap kandidat Republikan yang tidak sejalan dengannya.

"Partai Republik tidak akan pernah lagi dihormati atau kuat dengan 'pemimpin' politik seperti Senator Mitch McConnell di pucuk pimpinannya," tegas Trump dalam pernyataannya.

"Mitch merupakan penjahat politik yang masam, cemberut dan tidak suka tersenyum, dan jika para Senator Republikan tetap bersamanya, mereka tidak akan menang lagi," cetusnya. "Dia tidak akan pernah melakukan hal yang perlu dilakukan, atau hal yang benar untuk negara kita," imbuh Trump.

Serangan ini dilontarkan Trump setelah pada Sabtu (13/2) lalu, Senator Kentucky itu menyatakan bahwa meski dirinya memilih untuk membebaskan Trump dalam sidang pemakzulan, mantan presiden itu tetap 'bertanggung jawab secara praktis dan moral' atas rusuh Gedung Capitol.