Bebas dari Pemakzulan, Pengaruh Trump Masih Kuat di Partai Republik

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 15 Feb 2021 10:06 WIB
Washington DC -

Dengan keputusan Senat Amerika Serikat (AS) membebaskan mantan Presiden Donald Trump dari pemakzulan pada akhir pekan, maka diketahui bahwa pengaruh Trump masih sangat kuat di kalangan Partai Republik. Hasil voting Senat AS menunjukkan mayoritas Senator Republikan masih loyal pada Trump.

Seperti dilansir Reuters, Senin (15/2/2021), mayoritas 43 dari total 50 Senator Republikan memvoting untuk menyatakan Trump tidak bersalah atas dakwaan penghasutan pemberontakan -- satu-satunya dakwaan pemakzulan yang dijeratkan pada Trump yang dianggap menghasut pendukungnya untuk menyerang Gedung Capitol 6 Januari lalu.

Hasil itu juga berarti hanya tujuh Senator Republikan yang bergabung dengan 50 Senator Demokrat dalam menyatakan Trump bersalah atas dakwaan pemakzulan itu. Dengan kata lain, hasil voting itu menyoroti betapa kuatnya cengkeraman Trump terhadap Partai Republik yang menjadi citranya selama lima tahun terakhir.

Trump yang terkesan menjauhi sorotan sejak meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari lalu, diketahui memegang loyalitas kuat dari para pendukungnya, yang memaksa para politikus Republikan untuk juga loyal pada Trump dan khawatir dengan amarahnya.

Namun setelah dua pemakzulan, berbulan-bulan melontarkan klaim palsu soal kecurangan dalam pilpres AS 2020 dan adanya penyerbuan Gedung Capitol oleh para pendukungnya, Trump juga menjadi racun politik di kebanyakan swing district yang kerap menjadi penentu pemilu AS.

Posisi itu membuat para politikus Republikan dalam posisi genting saat berupaya membentuk koalisi kemenangan dalam pemilu 2022 untuk menguasai Kongres AS dan pilpres 2024 yang mungkin menyertakan Trump sebagai kandidat capres.

"Sulit dibayangkan Republikan menang pemilihan nasional tanpa pendukung Trump dalam waktu dekat," cetus pakar strategi Partai Republik, Alex Conant, yang juga ajudan Senator Republikan, Marco Rubio, saat kampanye pilpres 2016 melawan Trump.

"Partai menghadapi Catch 22 (dilema-red) yang sebenarnya: partai tidak bisa menang dengan Trump, tapi jelas tidak bisa menang tanpa dia," sebutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2