Cerita Dramatis Warga India yang Selamat dari 'Tsunami Himalaya'

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 19:24 WIB
A rescue operation is underway in northern India after a glacier broke off, triggering flash flood in the state of Uttarakhand - Indo-Tibetan Border Police (ITBP)/AFP
Operasi penyelamatan korban 'tsunami Himalaya' (Indo-Tibetan Border Police (ITBP)/AFP)
New Delhi -

Belasan pria yang bekerja di terowongan dekat pusat pembangkit listrik di Uttarakhand, India, menjadi korban banjir bandang yang dipicu longsornya gletser di Himalaya. Mereka berhasil selamat setelah terjebak berjam-jam di dalam terowongan yang dipenuhi lumpur dan bebatuan yang terbawa arus deras yang dijuluki 'tsunami Himalaya'.

Seperti dilansir AFP, Senin (8/2/2021), sedikitnya 18 orang dipastikan tewas dan setidaknya 200 orang lainnya masih hilang setelah bongkahan besar gletser yang longsor di Himalaya jatuh ke aliran sungai India hingga memicu banjir bandang di area lembah Uttarakhand.

Media lokal menyebut bencana ini sebagai 'tsunami Himalaya' akibat arus deras yang muncul di area pegunungan setelah bongkahan gletser longsor ke sungai. Dengan membawa lumpur dan bebatuan, arus deras itu menerjang dan merusak apapun yang ada di jalur sungai, termasuk rumah, gedung, jalan dan jembatan.

Banjir bandang yang mengalir deras menggenangi kompleks pembangkit listrik tenaga air di dekat tempat Rajesh Kumar dan belasan rekannya bekerja di dalam terowongan sepanjang 300 meter.

"Kami pikir kami tidak akan selamat," ucap Kumar (28) dari ranjang rumah sakit tempatnya kini dirawat kepada AFP.

"Tiba-tiba ada suara... ada teriakan, orang-orang menyuruh kami keluar. Kami mengira ada kebakaran. Kami mulai berlari tapi air menyembur masuk. Itu seperti film Hollywood," tuturnya.

Kumar dan rekan-rekannya berpegangan erat pada kerangka scaffolding atau perancah yang ada di dalam terowongan. Selama empat jam mereka berusaha bertahan dan terus memegangi scaffolding sambil menjaga kepala tetap di atas air dan puing-puing. Mereka juga berusaha saling meyakinkan satu sama lain.

"Kami hanya terus saling berbicara -- apapun yang terjadi, kami tidak boleh melepaskan kerangka logamnya. Syukurlah tangan kami tidak lepas dari pegangannya," ujarnya.

Saat banjir mulai menggenangi lembah, air di dalam terowongan mulai surut, dengan hanya tersisa timbunan puing dan lumpur setinggi lebih dari 1,5 meter.

"Kami memanjat puing bebatuan dan memaksakan dirinya kami bergerak ke mulut terowongan," ucapnya.