Round-Up

Belanda Memanas Usai Jam Malam Diprotes Pengunjuk Rasa

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 20:07 WIB
Covid-19: Kerusuhan pembatasan jam malam karena virus corona di Belanda terus berlanjut
Foto: Kerusuhan di Belanda akibat pembatasan jam malam dan lockdown (BBC World)
Amsterdam -

Situasi di Belanda memanas akibat aturan pemberlakuan jam malam dan lockdown guna membendung penyebaran virus Corona (COVID-19). Ratusan orang yang memprotes aturan ini ditangkap karena aksinya.

Seperti dilansir AFP dan Channel News Asia, Selasa (26/1/2021), polisi antihuru-hara terlibat bentrok dengan sekelompok demonstran di ibu kota Amsterdam, juga di kota pelabuhan Rotterdam. Dalam kerusuhan yang terjadi, para demonstran menghancurkan kaca jendela toko-toko dan menjarah isinya.

Namun motif di balik aksi vandalisme dan penjarahan ini masih belum jelas, dengan sebagian besar perusuh diketahui masih remaja.

Unjuk rasa pada akhir pekan yang awalnya memprotes keputusan pemerintah Belanda menerapkan jam malam ini, berlanjut hingga Senin (25/1) malam waktu setempat dan diwarnai kerusuhan. Dilaporkan bahwa kerusuhan juga terjadi di Amersfoort, kota kecil di kota Geleen, dekat Maastricht, Den Haag dan Den Bosch.

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan para perusuh menjarah sebuah toko di Den Bosch dan seorang wartawan foto dipukul di kepala dalam kerusuhan di Haarlem, setelah massa yang marah mengejarnya dan melemparkan batu ke arahnya.

Kepala kepolisian setempat, Willem Woelders, menuturkan dalam pernyataan via televisi bahwa 70 orang ditangkap terkait kerusuhan terbaru hingga Senin (25/1) malam, sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sementara 250 orang ditangkap dalam kerusuhan yang pecah di beberapa kota pada Minggu (24/1) waktu setempat.

Meriam air dikerahkan untuk membubarkan para penjarah di Rotterdam dan gas air mata digunakan untuk membubarkan demonstran di Haarlem. Pada Senin (25/1) malam, sejumlah Wali Kota di beberapa kota di Belanda mengumumkan akan menerapkan langkah-langkah darurat untuk mencegah kerusuhan lebih lanjut.

Perdana Menteri (PM) Belanda, Mark Rutte, mengecam kerusuhan yang disebutnya sebagai 'kekerasan kriminal' itu. Pejabat kepolisian Belanda menyebut sebagai 'kerusuhan terparah dalam 40 tahun terakhir' di negara itu.

"Ini tidak bisa diterima. Semua orang normal akan menganggap ini ngeri," tegas PM Rutte. "Apa yang memotivasi orang-orang ini tidak ada hubungannya dengan protes, itu adalah kekerasan kriminal dan kami akan memperlakukannya seperti itu," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2