Round-Up

Republikan Mulai Bergerak Demi Pemakzulan Trump Ditolak

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 05:10 WIB
Outgoing US President Donald Trump waves as he boards Marine One at the White House in Washington, DC, on January 20, 2021. - President Trump travels his Mar-a-Lago golf club residence in Palm Beach, Florida, and will not attend the inauguration for President-elect Joe Biden. (Photo by MANDEL NGAN / AFP) (Photo by MANDEL NGAN/AFP via Getty Images)
Foto: Donald Trump saat mengakhiri masa jabatan presidennya (AFP via Getty Images/MANDEL NGAN)
Washington DC -

Para anggota parlemen dari Partai Republik mulai bergerak untuk menolak proses pemakzulan Donald Trump. Republikan itu menilai proses pemakzulan itu sebagai tindakan bodoh.

Seperti dilansir AFP, Senin (25/1/2021), Ketua House of Representatives (HOR) atau DPR AS, Nancy Pelosi, diharapkan akan mengirimkan satu-satunya pasal pemakzulan Trump ke Senat AS pada 8 Februari mendatang. Trump dituduh menghasut pemberontakan terkait rusuh Gedung Capitol yang didalangi pendukungnya pada 6 Januari lalu.

Saat kedua pihak bersiap untuk menghadapi sidang pemakzulan Trump yang diperkirakan akan berjalan cepat, para politikus Republikan kembali melontarkan argumen-argumen politik dan konstitusional.

Argumen itu meningkatkan keraguan bahwa Partai Demokrat yang menguasai separuh kursi Senat AS -- 50 kursi dari total 100 kursi Senat -- akan bisa mengamankan 17 suara Senator Republikan untuk mencapai dua pertiga suara mayoritas yang dibutuhkan untuk menyatakan Trump bersalah dan dimakzulkan sepenuhnya. Trump berpotensi tidak bisa memegang jabatan publik di masa mendatang jika dimakzulkan sepenuhnya.

"Saya pikir persidangan (pemakzulan) itu bodoh. Saya pikir itu kontraproduktif. Kita sudah memiliki apa yang berkobar di negara ini dan itu seperti mengambil sejumlah besar bensin dan menuangkannya ke atasnya," ujar Senator Republikan, Marco Rubio, yang merupakan anggota Komisi Intelijen Senat AS, dalam pernyataan kepada Fox News.

Rubio mengakui bahwa Trump -- yang mendorong ribuan pendukungnya untuk berkumpul di Washington DC dan memprotes pengesahan kemenangan Presiden AS, Joe Biden -- 'memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi'.

Selanjutnya
Halaman
1 2