9 Penambang China yang Terperangkap Dipastikan Tewas, 1 Masih Hilang

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 18:44 WIB
Rescue workers are pictured at the site of a landslide on December 26, 2015 in Hpakant, Kachin State, the war-torn area that is the epicentre of Myanmars secretive billion dollar jade industry. Rescuers were searching through mud and rubble after a new landslide buried workers in the remote jade mining region in northern Myanmar, the second such incident in just over a month. AFP PHOTO / AFP PHOTO / STR
Ilustrasi Tambang China (Foto: AFP PHOTO/STR)
Beijing -

Pejabat pemerintahan China pada Senin (25/1) mengatakan sembilan penambang China yang terperangkap di bawah tanah selama lebih dari dua minggu, telah dipastikan tewas. Saat ini tersisa satu penambang lainnya yang masih belum ditemukan setelah ledakan di lokasi tambang tersebut. Operasi pencarian pun terus dilakukan.

Dilansir dari AFP, Senin (25/1/2021), 22 orang terperangkap ratusan meter di bawah tanah akibat ledakan di tambang Hushan, provinsi Shandong Timur pada 10 Januari lalu. Mereka bergantung pada makanan dan obat-obatan yang dikirim melalui terowongan panjang yang dibor oleh tim penyelamat.

Sebelas korban selamat akhirnya berhasil dibawa ke permukaan pada hari Minggu (24/1) oleh tim penyelamat.

"Dari Minggu sore hingga sore ini, petugas penyelamat tidak berhenti mencari, dan menemukan sembilan penambang lagi yang terperangkap namun sayangnya semuanya tewas," kata Wali Kota Yantai, Chen Fei, dalam sebuah pernyataan, Senin (25/1).

"Bersama dengan seorang penambang yang meninggal pada hari Kamis, mayat sembilan penambang yang meninggal semuanya diangkat dari tambang."

"Tim penyelamat tidak akan berhenti mencari sampai penambang terakhir yang tersisa ditemukan," kata Chen. Ia menambahkan bahwa tingginya level air bawah tanah di areal tambang telah menyebabkan operasi penyelamatan menjadi lebih sulit.

Ledakan awal terjadi di poros ventilator tambang, sehingga menyebabkan penyumbatan yang merusak kereta gantung.

Chen mengatakan bahwa kesembilan penambang telah tewas akibat ledakan sekunder di tambang pada 10 Januari ketika mereka mencoba melarikan diri.

Operasi penyelamatan dipercepat pada hari Minggu (24/1) ketika penyumbatan di poros ventilator dibersihkan.

Kontak pertama dilakukan kepada 11 penambang seminggu yang lalu, saat mereka terperangkap di bagian tambang sekitar 580 meter di bawah permukaan. Salah satunya terluka parah pada ledakan awal dan meninggal setelah koma.

Seorang penambang lain ditemukan hidup-hidup oleh penyelamat ketika mereka berusaha mencapai kelompok tersebut.

Kecelakaan pertambangan biasa terjadi di sektor pertambangan China yang berbahaya dan tidak diatur dengan baik.

(izt/ita)