PM Jepang Dikritik karena Dianggap Lambat Atasi COVID-19

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 14:32 WIB
Langgar aturan virus corona yang dibuat pemerintahannya sendiri, PM Jepang Yoshihide Suga menyatakan sangat menyesal
PM Jepang, Yoshihide Suga (Foto: BBC World)
Tokyo -

Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga mendapat tekanan atas penanganannya terkait pandemi COVID-19. Dalam jajak pendapat, banyak orang menyebut pemerintah Jepang terlalu lamban merespons gelombang infeksi Corona.

Dilansir dari Reuters, Senin (25/1/2021), anggota parlemen oposisi juga semakin frustrasi dengan gaya kepemimpinan Suga yang tergolong 'diam'. Mereka menuntut Suga untuk memberikan jawaban terperinci atas pertanyaan tentang krisis COVID-19 dan Olimpiade Tokyo yang akan dimulai dalam waktu kurang dari enam bulan.

Suga saat ini sedang berjuang menghentikan penurunan dukungan atas pemerintahannya setelah meluncurkan serangkaian tindakan untuk menahan gelombang ketiga infeksi virus Corona, demi terwujudnya Olimpiade Tokyo yang rencananya dimulai pada 23 Juli mendatang.

Menurut jajak pendapat oleh surat kabar lokal Asahi pada hari Senin (25/1), dukungan untuk kabinet Suga turun menjadi 33 persen dari 39 persen bulan lalu, dengan ketidaksetujuan meningkat 10 poin menjadi 45 persen.

Jajak pendapat yang dilakukan melalui telepon pada akhir pekan lalu itu, menunjukkan 80 persen responden menganggap pemerintah terlalu lambat untuk mengumumkan keadaan darurat dalam menanggapi wabah baru Corona yang telah melanda sejak Desember lalu.

Kritikus juga mengatakan Suga membutuhkan waktu terlalu lama untuk menghentikan kampanye pariwisata domestik, yang menurut beberapa ahli telah berkontribusi pada penyebaran virus di wilayah Tokyo.

Yoshihito Niki, seorang spesialis penyakit menular dan profesor di Rumah Sakit Universitas Showa, setuju bahwa pemerintah seharusnya menghentikan kampanye lebih awal.

"Jelas itu bermasalah, hal itu mungkin telah berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus akibat banyak orang yang bepergian. Ini juga memberi kesan kepada kaum muda bahwa mereka dapat menurunkan kewaspadaan soal infeksi Corona," katanya.

Pemerintah mengatakan keputusannya untuk tetap berpegang pada kampanye pariwisata domestik sesuai berdasarkan data infeksi pada saat itu.

Peringatan Atas Kondisi Darurat

Data infeksi yang dirilis selama akhir pekan menunjukkan bahwa gelombang infeksi COVID-19 ketiga, yang paling mematikan di Jepang, telah memuncak.

Tonton juga 'IOC Gelar Olimpiade Tokyo 2021 Sesuai Jadwal':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2