AS Lakukan Eksekusi Mati ke-13 dan yang Terakhir di Era Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 16 Jan 2021 16:25 WIB
Ilustrasi Penjara, Sel, Lapas, Jeruji Besi
Ilustrasi (Thinkstock)
Washington DC -

Otoritas Amerika Serikat (AS) melakukan eksekusi mati ke-13 dan yang terakhir di masa kepemimpinan Presiden Donald Trump. Seorang narapidana pembunuhan disuntik mati di Indiana, kurang dari sepekan sebelum Gedung Putih diambil alih oleh Presiden terpilih AS, Joe Biden, yang menentang hukuman mati.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (16/1/2021), narapidana bernama Dustin Higgs (48) yang seorang pria kulit hitam itu disuntik mati di penjara federal di Terre-Haute, Indiana, beberapa jam setelah Mahkamah Agung AS menolak penundaan eksekusi mati karena Higgs dinyatakan positif virus Corona (COVID-19).

Laporan media terkemuka AS, New York Times, yang mengutip Biro Penjara Federal AS menyebut Higgs dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (16/1) dini hari, pukul 01.23 waktu setempat.

Higgs divonis mati terkait pembunuhan tiga wanita muda tahun 1996 lalu. Dia bukan yang membunuh ketiga wanita itu, namun dinyatakan bersalah sebagai dalang yang memerintahkan pembunuhan ketiga korban. Teman Higgs yang menjadi eksekutor pembunuhan telah diadili terpisah dan divonis penjara seumur hidup.

"Ini sewenang-wenang dan tidak adil untuk menghukum Higgs lebih berat daripada pembunuh sebenarnya," tegas pengacara Higgs, Shawn Nolan, dalam argumennya saat mengajukan grasi kepada Trump pada akhir Januari tahun lalu.

Namun Trump yang pendukung hukuman mati, tidak mengabulkan permohonan grasi itu. Sebaliknya, pemerintahan Trump berjuang di pengadilan agar bisa melakukan eksekusi mati sebelum Trump mengakhiri masa jabatannya pada 20 Januari mendatang.

Pengadilan distrik AS awalnya memerintahkan penundaan eksekusi mati Higgs setelah dia terinfeksi Corona dan menyatakan bahwa, dengan paru-parunya yang rusak, Higgs akan mengalami penderitaan kejam saat disuntik mati.

Selanjutnya
Halaman
1 2