Round-Up

4 Kontroversi Harun Yahya Perkosa 'Kittens' hingga Dihukum Bui

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 20:08 WIB
Siapa Adnan Oktar alias Harun Yahya, pendiri organisasi Islam yang dituduh punya budak seks dan kini divonis 1.075 tahun penjara
Foto: Harun Yahya (BBC World)
Istanbul -

Pendakwah dan penulis kontroversial, Adnan Oktar alias Harun Yahya diganjar hukuman penjara 1.075 tahun karena kejahatan seksual. Ada sejumlah kontroversi yang meliputi Harun Yahya.

Pada Senin (11/1) waktu setempat, Oktar dijatuhi vonis total 1.075 tahun 3 bulan penjara oleh pengadilan Istanbul.

Dia dikenal sebagai seorang penulis buku-buku bertema Islam. Buku dan video yang ia buat berisi gagasan-gagasannya untuk menentang ide-ide seperti teori evolusi Darwin, Marxisme hingga agama Yahudi.

Dia kemudian dikenal sebagai pemimpin sekte yang kerap ditemani oleh perempuan-perempuan seksi yang disebut kittens.

Oktar diadili bersama 236 terdakwa lainnya sejak September 2019. Dia bersama puluhan pengikutnya ditangkap dalam serangkaian operasi nasional tahun 2018 lalu. Dakwaan setebal 499 halaman menggambarkan Oktar dan pengikutnya sebagai geng kriminal yang berkembang pesat dalam pemerasan, pencucian uang dan serentetan tindak kejahatan lainnya.

Berikut ini sejumlah kontroversi seputar Harun Yahya:


1. Klaim Punya Hampir 1.000 Kekasih

Seperti dilansir AFP dan media lokal Turki, Daily Sabah, Selasa (12/1/2021), dalam pembelaan akhir di sidang, Oktar menyampaikan bantahan terhadap dakwaan-dakwaan yang dijeratkan padanya. Di hadapan hakim pada Desember lalu, Oktar mengklaim memiliki 'hampir 1.000 kekasih' saat menyangkal dakwaan pelecehan seksual.

Pada Oktober tahun lalu, Oktar menyebut dirinya memiliki 'luapan cinta untuk wanita-wanita'.

"Ada luapan cinta di hati saya untuk wanita. Cinta adalah kualitas manusia. Itu kualitas seorang Muslim," ucap Oktar dalam sidang saat itu.

Dalam sidang lainnya, Oktar menyampaikan komentar berbunyi: "Saya luar biasa kuat."


2. Kelola Organisasi Kriminal

Dia dinyatakan bersalah atas berbagai tindak pidana mulai dari mendirikan dan memimpin organisasi kriminal, melakukan spionase politik atau militer, membantu Kelompok Teroris Gulenist (TFO), melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, penganiayaan seksual, merampas kebebasan orang lain, penyiksaan, mengganggu hak atas pendidikan, mencatat data pribadi dan membuat ancaman.

Oktar menyangkal dakwaan mengelola organisasi kriminal yang dijeratkan padanya, dengan mengklaim dirinya hanya memiliki banyak sekali teman. Sementara soal dakwaan terlibat kelompok Fethullah Gullen dan dakwaan spionase, Oktar menyalahkan konspirasi melawan dirinya oleh 'kekuatan tertentu'.

Selanjutnya
Halaman
1 2