Round-Up

Tawaran Menggiurkan AS ke RI Bila 'Jabat Tangan' dengan Negeri Yahudi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 21:01 WIB
President Donald Trump, center, with from left, Bahrain Foreign Minister Khalid bin Ahmed Al Khalifa, Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu, Trump, and United Arab Emirates Foreign Minister Abdullah bin Zayed al-Nahyan, during the Abraham Accords signing ceremony on the South Lawn of the White House, Tuesday, Sept. 15, 2020, in Washington. (AP Photo/Alex Brandon)
Foto:Trump saat memediasi Sudan normalisasi hubungan dengan Israel (AP Photo/Alex Brandon)
Tel Aviv -

Indonesia bisa mendapatkan bantuan keuangan hingga miliaran dolar AS jika mau menjalin hubungan dengan Israel. Tawaran ini datang atas dorongan Presiden Donald Trump yang tengah memediasi negara-negara Muslim untuk membangun hubungan dengan negeri Yahudi itu. Bagaimana respons Indonesia atas tawaran menggiurkan ini?

Dilansir Bloomberg, Rabu (23/12/2020), hal tersebut diungkapkan oleh CEO Korporasi Pembangunan Keuangan Internasional AS (DFC) -- sebuah badan pemerintah yang berinvestasi di luar negeri, Adam Boehler, dalam sebuah wawancara pada Senin (21/12) waktu setempat di Hotel King David, Yerusalem.

Disebutkan Boehler bahwa DFC dapat melipatgandakan atau lebih portofolio-nya saat ini sebesar US$ 1 miliar, jika Indonesia bersedia menjalin hubungan dengan Israel.

"Kami sedang membahasnya dengan mereka soal itu," sebut Boehler dalam wawancara itu.

"Jika mereka siap, mereka siap dan jika mereka melakukannya maka kami akan dengan senang hati mendukung secara finansial lebih dari apa yang kami lakukan," lanjutnya.

Boehler mengatakan dirinya tidak terkejut jika pendanaan organisasinya untuk Indonesia, yang merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, bertambah menjadi "1 atau 2 miliar dolar (AS) lagi".

Para pemimpin AS dan Israel mengatakan mereka mengharapkan lebih banyak negara untuk bergabung dalam gelombang kesepakatan normalisasi dengan Israel yang diumumkan dalam beberapa bulan terakhir. Negara-negara yang sudah bergabung antara lain, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan dan Maroko.

AS juga berharap Oman dan Arab Saudi akan bergabung, meskipun Boehler mengatakan pendanaan DFC untuk kedua negara tersebut akan dibatasi. Hal ini karena organisasi tersebut tidak diizinkan untuk berinvestasi secara langsung di negara-negara dengan pemasukan lebih tinggi.

Boehler berada di Israel sebagai bagian dari delegasi bersama menantu Trump dan penasihat senior Gedung Putih, Jared Kushner. Berikutnya di Maroko, Boehler mengatakan dirinya akan mengumumkan pembukaan cabang Prosper Africa pertama di Afrika Utara, sebuah inisiatif untuk meningkatkan bisnis antara AS dan Afrika.

Dia juga mengatakan lembaganya kemungkinan akan menjadi bagian dari sindikat utang untuk membantu membiayai penjualan Israel di pelabuhan terbesar negara itu di Haifa bagian utara. Perusahaan Amerika dan perusahaan Emirat telah menunjukkan minat dalam tender tersebut, dan Boehler mengatakan dia akan melihat tawaran yang melibatkan warga Amerika atau sekutu AS seperti Uni Emirat Arab.

Apa kata Kemlu RI soal tawran ini? Silakan klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2