ADVERTISEMENT

32 Tahun Pengeboman Lockerbie, AS Dakwa Eks Agen Intelijen Libya

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 14:48 WIB
Attorney General William Barr speaks during a press conference about Operation Legend at the Dirksen Federal Building Wednesday, Sept. 9, 2020, in Chicago. Barr said the operation was
Dakwaan untuk eks agen intelijen Libya diumumkan Jaksa Agung AS, Bill Barr (Pat Nabong/Chicago Sun-Times via AP)
Washington DC -

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengumumkan dakwaan terhadap mantan agen intelijen Libya yang diduga merakit bom yang meledak di dalam pesawat maskapai Pan Am dengan nomor penerbangan 103 di atas wilayah Lockerbie, Skotlandia, tahun 1988 silam.

Seperti dilansir AFP, Selasa (22/12/2020), ledakan bom di dalam pesawat Pan Am sekitar 32 tahun lalu itu menewaskan sedikitnya 259 orang, termasuk 190 warga AS, yang ada di dalam pesawat tujuan AS itu dan menewaskan 11 orang di daratan.

Jaksa Agung AS, Bill Barr, menyatakan bahwa eks agen intelijen Libya yang diidentifikasi bernama 'Abu Agela Mas'ud Kheir Al-Marimi' membantu merakit alat peledak yang meledakkan pesawat.

"Akhirnya, orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga Amerika dan banyak orang lainnya, akan diadili atas kejahatannya," tegas Barr dalam pernyataannya.

Dalam konferensi pers, Barr menyebut bahwa pria yang lebih dikenal secara luas sebagai Abu Agila Mohammad Masud itu tengah ditahan oleh pemerintah Libya. Dia menyatakan keyakinan bahwa Masud akan diserahkan kepada AS untuk disidangkan.

"Masud ada dalam penahanan pemerintah Libya saat ini dan kita tidak punya alasan untuk berpikir bahwa pemerintah tertarik untuk mengasosiasikan diri dengan tindakan terorisme keji ini," sebutnya.

Di Skotlandia, otoritas setempat memuji langkah tersebut, dengan menggarisbawahi bahwa penyelidikan terhadap pengeboman pesawat pada 21 Desember 1988 itu terus berlanjut.

"Selama 32 tahun, keluarga dari 270 orang yang terbunuh dalam kekejaman ini telah menunjukkan martabat yang luar biasa dalam menghadapi kehilangan yang merasa alami pada malam mengerikan pada 21 Desember 1988. Hari ini, pikiran kita ada bersama mereka sekali lagi," ucap Lord Advocate James Wolfee, pejabat hukum paling senior di Skotlandia.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT