Cagub Kalsel Denny Indrayana: Yang Berpikir Manipulasi Suara, Hentikan!

Muhammad Risanta - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 23:43 WIB
Cagub Kalsel Denny Indrayana
Foto: Cagub Kalsel Denny Indrayana (Muhammad Risanta/detikcom)
Banjarbaru -

Calon Gubernur (Cagub) Kalimantan Selatan (Kalsel), Denny Indrayana, meminta semua pihak untuk menghormati hasil penghitungan suara Pilgub Kalsel yang sementara menempatkan paslon nomor 02 unggul dari paslon petahana. Dia pun memperingatkan semua pihak untuk tidak melakukan manipulasi suara.

Berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga survey dan KPU, posisi suara pasangan Denny Indrayana-Difri Darjad ungul 51,5 sedangkan Sahbirin Noor - Muhidin tetap berada di posisi 48, 5 hingga pukul 22.30 Wita. Denny Indrayana sendiri khawatir keunggulan paslon nomor urut 02 melalui perolehan suara ini bakal terganggu dengan ulah kecurangan yang disengaja dilakukan pihak tertentu untuk menjegal kemenangan tersebut.

Karenanya dirinya memberikan peringatan dini (early warning) kepada pihak-pihak yang ingin berbuat curang, termasuk memanipulasi suara untuk memenangan paslon tertentu.

"Ini Early Warning (peringatan dini) , siapa pun yang berpikir melakukan manipulasi suara, sebaiknya hentikan. Mari kita selamatkan kemenangan rakyat Kalimantan Selatan.Kita kawal perolehan suara ini dengan cara-cara terhormat dan bermartabat," tegas Denny Indrayana, saat menggelar konfrensi pers di kediaman pribadinya di kawasan Purnama, Banjarbaru, Jumat (11/12/2020).

Early Warning Sistem (peringatan dini ) sendiri beber Denny, sebagai isyarat untuk menyelamatkan demokrasi yang sudah berjalan baik di Pilkada Kalsel. Karena pihaknya tak ingin proses tabulasi penghitungan suara yang sedang berjalan dinodai dengan tindakan kecurangan-kecurangan.Ia pun melihat ada beberapa parameter atau indikasi mencurigakan seperti rapat-rapat pleno penghitungan suara di tingkat kecamatan di sejumlah Kabupaten yang ditunda.

"Ini tidak sedikit jumlahnya, ini ada apa. Karena penundaan-penundaan itu biasanya adalah modus untuk memberi ruang terjadinya manipulasi . Kelambatan ini adalah indikator ada sesuatu yang sedang bekerja.Kalau ada yang lambat atau ditunda, maka kita akan memasang mata dan telinga," cetus mantan Wakil Menteri Hukum dan Ham era Presiden SBY ini.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.