AS Kemungkinan Bakal Larang Vaksin Pfizer-BioNTech Bagi yang Alergi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 14:37 WIB
Moncef Slaoui, kepala penasihat inisiatif Operasi Warp Speed ​​pemerintah AS (AFP via Getty Images/MANDEL NGAN)
Foto: Moncef Slaoui, kepala penasihat inisiatif Operasi Warp Speed ​​pemerintah AS (AFP via Getty Images/MANDEL NGAN)
Washington DC -

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) belum menyetujui untuk memesan vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19. Namun, FDA mungkin akan meminta orang-orang dengan riwayat reaksi alergi parah untuk tidak divaksinasi dengan vaksin ini.

Dilansir AFP, Kamis (10/12/2020) berita itu menyusul peringatan serupa di Inggris setelah dua petugas kesehatan menderita reaksi alergi dan membutuhkan perawatan.

Baik Inggris dan Kanada telah menyetujui pemberian vaksin dua dosis secara darurat dan AS diharapkan untuk mengikutinya dalam hitungan hari, setelah panel penasihat FDA bertemu untuk membahas masalah tersebut Kamis (10/12).

Moncef Slaoui, yang merupakan penasihat utama program AS untuk pengembangan vaksin dan pengobatan COVID-19, mengatakan bahwa pihaknya melihat data.

"Melihat data, pasien atau subjek dengan riwayat reaksi alergi parah telah dikeluarkan dari uji klinis," kata Slaoui.

"Saya berasumsi - karena FDA akan membuat keputusan tersebut - bahwa besok ini akan menjadi bagian dari pertimbangan, dan seperti di Inggris, harapannya adalah subjek dengan reaksi parah yang diketahui, (akan diminta) untuk tidak mengambil vaksin, sampai kami memahami dengan tepat apa yang terjadi di sini," tuturnya.

FDA mungkin juga akan meminta penyedia untuk mengawasi apakah orang-orang mengalami bentuk kelumpuhan wajah yang langka, meski sementara dan tidak terlalu serius yang disebut Bell's palsy. Pasalnya, data menunjukkan empat orang dari sekitar 19.000 orang dalam kelompok uji coba vaksin mengalami kondisi tersebut.

Secara keseluruhan, Slaoui mengatakan dia terkesan dengan data vaksin yang muncul dalam dokumen pengarahan yang diserahkan ke FDA, termasuk yang penting bahwa perlindungan yang kuat dimulai setelah dosis pertama - meskipun rekomendasinya tetap untuk mengambil suntikan vaksin kedua, dengan selisih 21 hari.

Pemerintah AS berharap dapat memvaksinasi 20 juta orang bulan ini, dengan penghuni fasilitas perawatan jangka panjang dan pekerja perawatan kesehatan di garis depan akan menjadi prioritas.

Selanjutnya
Halaman
1 2