Bos Intel AS Sebut China Ancaman Terbesar Bagi Demokrasi Dunia

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 12:21 WIB
Tensi AS-China meninggi, AS menahan tiga orang ilmuwan militer China terkait kecurangan visa
Ilustrasi (BBC World)
Washington DC -

Kepala intelijen Amerika Serikat (AS) menyebut China sebagai 'ancaman terbesar untuk demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia' dalam pernyataan terbarunya. Otoritas AS diketahui baru saja menerapkan pembatasan visa perjalanan untuk para anggota Partai Komunis China.

Seperti dilansir AFP, Jumat (4/12/2020), Direktur Intelijen Nasional AS, John Ratcliffe, menyampaikan hal itu dalam artikel opini yang dipublikasikan media terkemuka AS, Wall Street Journal, pekan ini. Dalam tulisannya, Ratcliffe membahas tindak pencurian yang dilakukan China terhadap rahasia bisnis dan teknologi pertahanan AS.

"Republik Rakyat China memberikan ancaman terbesar bagi Amerika saat ini, dan ancaman terbesar bagi demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia sejak Perang Dunia II," sebut Ratcliffe dalam tulisannya.

Dia juga membahas soal operasi di mana agen-agen China memanfaatkan tekanan ekonomi untuk mempengaruhi atau melemahkan legislator AS.

"Intelijen kita menunjukkan bahwa Beijing secara rutin mengarahkan operasi mempengaruhi semacam ini di AS," tulis Ratcliffe.

"Para pemimpin China berupaya mensubordinasikan hak-hak individu sesuai keinginan Partai Komunis," imbuhnya. "Mereka menggunakan kendali pemerintah atas perusahaan-perusahaan dan menumbangkan privasi dan kebebasan warga negara mereka dengan pengintaian negara secara otoriter," sebutnya.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS menyebut para anggota Partai Komunis China (CCP) 'memusuhi nilai-nilai AS' dan terlibat dalam 'aktivitas jahat'.