Ilmuwan Nuklir Ternama Tewas dalam Serangan, Iran Tuding Israel

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Sabtu, 28 Nov 2020 03:56 WIB
Virus corona: Iran, negara yang telah memasuki hari-hari paling sulit dalam gelombang ketiga Covid-19, dengan 27 dari 31 provinsi zona merah
Foto: Ilustrasu (BBC World)
Teheran -

Iran mengungkapkan salah satu ilmuwan nuklir terkemuka mereka tewas dalam sebuah serangan di luar Kota Teheran. Iran menuding Israel berada di belakang aksi ini.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (28/11/2020), ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh terluka parah ketika penyerang menargetkan mobilnya sebelum terlibat baku tembak dengan tim keamanannya, menurut Kementerian Pertahanan dalam sebuah pernyataan.

Kementerian Pertahanan menambahkan bahwa Fakhrizadeh yang mengepalai organisasi penelitian dan inovasi kementerian pertahanan, kemudian 'menjadi martir' setelah petugas medis gagal menyelamatkannya.

Fakhrizadeh pernah digambarkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai bapak program senjata nuklir Iran, telah melakukan perjalanan dengan mobil di dekat Kota Absard di wilayah Damavand, timur provinsi Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan ada 'indikasi serius peran Israel' dalam pembunuhan ilmuwan itu.

"Teroris membunuh seorang ilmuwan Iran terkemuka hari ini," tulis Zarif di Twitter.

"Kepengecutan ini- dengan indikasi serius dari peran Israel-menunjukkan penghasutan yang putus asa dari para pelaku," tambahnya.

Dia juga meminta komunitas internasional untuk "mengakhiri standar ganda mereka yang memalukan dan mengutuk tindakan teror negara ini."

Pembunuhan Fakhrizadeh terjadi kurang dari dua bulan sebelum Joe Biden menjabat sebagai presiden AS. Biden telah berjanji untuk kembali ke diplomasi dengan Iran setelah empat tahun hawkish di bawah Presiden AS Donald Trump, yang menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan mulai memberlakukan kembali sanksi yang melumpuhkan.

Trump mengatakan pada saat itu bahwa kesepakatan yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) itu tidak menawarkan jaminan yang cukup untuk menghentikan Teheran memperoleh bom atom. Iran selalu membantah menginginkan senjata seperti itu.

(rfs/rfs)