Penunjukan Wanita Keturunan Palestina Jadi Penasihat Gedung Putih Dikritik

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 11:41 WIB
Reema Dodin (dok. Situs Transisi Biden-Harris)
Reema Dodin (dok. Situs Transisi Biden-Harris)
Washington DC -

Penunjukan wanita keturunan Palestina, Reema Dodin, sebagai salah satu penasihat Gedung Putih oleh Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menuai kritikan. Komentar masa lalu soal bom bunuh diri warga Palestina yang dilontarkan Dodin saat dia masih menjadi mahasiswa diungkit kembali.

Seperti dilansir media AS, Fox News dan media Israel, Haaretz, Kamis (26/11/2020), kritikan untuk Dodin datang dari para blogger dan media yang beraliran sayap kanan, juga kelompok advokasi Israel. Kebanyakan pengkritik mengungkit pernyataan yang disampaikan Dodin 18 tahun lalu, saat dia masih menjadi mahasiswi.

Diketahui bahwa Dodin pernah mengomentari soal aksi bom bunuh diri warga Palestina saat Intifada Kedua tahun 2002 lalu. Saat itu Dodin masih menjadi mahasiswa di Universitas California di Berkeley. Dia juga diketahui ikut bergabung dalam unjuk rasa mendukung Palestina.

"Para pengebom bunuh diri merupakan upaya terakhir dari orang-orang yang putus asa," ujar Dodin saat berbicara di sebuah gereja di Lodi, California, tahun 2002 silam, menurut laporan media lokal, Lodi News-Sentinel, pada saat itu.

"Publik Amerika memiliki sejarah sebagai orang yang berpikiran adil, tetapi informasi yang diperoleh publik cenderung bias, buruk dan salah," kritik Dodin dalam pernyataannya saat itu. "Jika Anda ingin memberikan informasi ini ke publik, anda harus melakukannya secara holistik," imbuhnya.

Artikel-artikel dari media lokal, The Daily Californian dan The Berkeley Daily Planet mengaitkan Dodin dengan demonstrasi mendukung Palestina, termasuk dengan menduduki salah satu gedung universitas untuk menuntut Universitas California melakukan divestasi dari Israel tahun 2000 silam. Menurut laporan Kelompok Krisis Internasional, sedikitnya 30 aksi bom bunuh diri menewaskan 195 orang di Yerusalem antara Oktober 2000 hingga Oktober 2015.

"Mereka bilang mereka ingin perdamaian, tapi perdamaian berdasarkan aturan mereka," ucap Dodin yang pada saat itu diidentifikasi sebagai demonstran, saat menanggapi unjuk rasa tandingan oleh Koalisi Aksi Israel, menurut laporan The Berkeley Daily Planet.

Selanjutnya
Halaman
1 2