Round-Up

Dari Trump hingga Putin Dukung Prancis Kecam Penusukan di Nice

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 20:01 WIB
Police officers stand guard near Notre Dame church in Nice, southern France, Thursday, Oct. 29, 2020. An attacker armed with a knife killed at least three people at a church in the Mediterranean city of Nice, prompting the prime minister to announce that France was raising its security alert status to the highest level. It was the third attack in two months in France amid a growing furor in the Muslim world over caricatures of the Prophet Muhammad that were re-published by the satirical newspaper Charlie Hebdo. (Eric Gaillard/Pool via AP)
Foto: Penjagaan di Nice usai penyerangan di Gereja Prancis (Eric Gaillard/Pool via AP)

Kanselir Austria, Sebastian Kurz, dalam kecamannya menyebut tindak penusukan fatal di Prancis sebagai 'serangan teror Islam yang tercela'. "Kami akan mempertahankan nilai-nilai kami dan 'cara hidup' Eropa dengan sekuat tenaga melawan Islamis dan politik Islam," tegasnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump, juga menyebut penyerangan brutal di Nice, Prancis itu sebagai 'serangan teroris Islam radikal'. "Hati kami bersama rakyat Prancis. Amerika berdiri bersama sekutu tertua kami dalam pertempuran ini," ucap Trump via pernyataan via akun Twitter-nya.

"Serangan teroris Islam Radikal ini harus segera dihentikan. Tidak ada negara, Prancis atau yang lain, yang dapat bertahan lama dengan itu!" tegas Trump.

Kecaman juga datang dari Turki, yang beberapa waktu terakhir terlibat pertikaian dengan Prancis terkait publikasi karikatur Nabi Muhammad yang memicu gelombang serangan terhadap warga Prancis.

"Kami mengecam dengan keras serangan yang dilakukan hari ini di dalam Gereja Notre-Dame di Nice," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis.

Turki juga menyampaikan solidaritas untuk Prancis dan menyampaikan belasungkawa mendalam bagi keluarga korban penusukan fatal itu.

Negara-negara Arab juga melontarkan kecaman untuk penusukan brutal di Prancis tersebut. Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan pihaknya 'berdiri bersama Prancis dalam memerangi insiden penuh kebencian ini'.

Qatar melontarkan kecaman keras dan menegaskan penolakan terhadap tindak kekerasan dan terorisme, khususnya terhadap tempat-tempat ibadah dan terlepas apapun motifnya. Kementerian Luar Negeri Qatar juga menyampaikan belasungkawa untuk keluarga korban.

Ada pula dukungan dari PM Lebanon, Saad Hariri. Saad dalam komentarnya mendorong umat Muslim 'untuk menolak tindak kriminal ini, yang tidak ada hubungannya dengan Islam atau Nabi'.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Dhaifallah Ali al-Fayez, mengecam penusukan di Prancis itu sebagai 'kejahatan teroris'. Dia mengkritik semua tindak kejahatan yang 'bertujuan untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas serta tidak sejalan dengan nilai dan prinsip keagamaan dan kemanusiaan'.

PM Israel, Benjamin Netanyahu, juga mengecam penyerangan brutal di Prancis. Ditegaskan Netanyahu bahwa Israel 'bersatu dalam keterkejutan dan kecaman terhadap serangan mengerikan' di Nice.

"Semua masyarakat beradab harus berdiri dalam solidaritas penuh dengan Prancis melawan momok terorisme. Tidak ada pembenaran atau pengelakan," tegas Netanyahu.