Prancis Lockdown Lagi, Ratusan Warga Gelar Aksi Protes di Paris

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 17:45 WIB
Pedestrians wearing protective face masks walk in a street of Bordeaux on October 29, 2020, as a new Covid-19 lockdown comes into effect at midnight. - French President announced on October 28 a new lockdown aimed at halting an alarming acceleration of Covid-19 cases, to take effect from October 29 night until
Situasi di Prancis sebelum penerapan lockdown terbaru pada Jumat (30/10) waktu setempat (AFP/PHILIPPE LOPEZ)
Paris -

Pemerintah Prancis kembali memberlakukan lockdown (penguncian) di tengah lonjakan kasus virus Corona (COVID-19). Ratusan orang turun ke jalanan Paris untuk memprotes lockdown terbaru dan penerapan jam malam demi mengendalikan penyebaran Corona di negara tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (30/10/2020), para demonstran yang kebanyakan pemuda ini berjalan menembus lalu lintas di jalanan Paris untuk membujuk para pengemudi kendaraan dan pejalan kaki bergabung dengan mereka.

Dalam aksinya pada Kamis (29/10) malam waktu setempat, para demonstran menyebut lockdown sebagai aturan yang tidak adil dan anti-demokrasi.

Orang-orang yang sedang makan di rumah makan dan restoran di sepanjang jalan yang menjadi lokasi unjuk rasa, hanya menonton. Mereka tidak tampak terganggu oleh kehadiran kerumunan demonstran tersebut.

Otoritas Prancis kembali menerapkan lockdown selama sebulan mulai Kamis (29/10) tengah malam atau Jumat (20/10) dini hari waktu setempat. Penerapan lockdown ini dimaksudkan untuk mengerem penyebaran virus Corona yang terjadi secara cepat.

Di bawah aturan lockdown terbaru, warga Prancis hanya boleh bepergian dalam radius 1 kilometer dari rumah masing-masing, kecuali untuk membeli makanan atau pergi sekolah atau untuk beberapa pengecualian lainnya.

Mereka yang terbukti melanggar aturan lockdown akan dihukum denda 135 Euro (Rp 2,3 juta).

Semua bisnis non-esensial akan tutup selama lockdown terbaru. Orang-orang diwajibkan bekerja dari rumah jika situasi tidak memungkinkan untuk bekerja di kantor. "Situasi akan sulit dalam beberapa pekan ke depan," sebut Perdana Menteri (PM) Prancis, Jean Castex.

PM Castex menyatakan 'tidak ada solusi lainnya' untuk melindungi rumah sakit dari tekanan yang semakin meningkat di tengah pandemi Corona.

Diketahui bahwa para pasien Corona kini menempati lebih dari 62 persen dari total okupansi tempat tidur di unit perawatan intensif di rumah-rumah sakit setempat.

Pada Kamis (29/10) waktu setempat, Prancis mencatat 235 kematian akibat Corona dalam sehari -- tertinggi sejak Mei. Menurut data penghitungan terbaru Johns Hopkins University (JHU), lebih dari 1,3 juta kasus Corona kini terkonfirmasi di Prancis dengan lebih dari 36 ribu kematian.

(nvc/ita)