Imigran Tunisia Pelaku Penyerangan di Gereja Prancis Kritis di Rumah Sakit

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 06:37 WIB
Aksi penusukan terjadi di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis, menewaskan tiga orang. Aksi itu terjadi di area gereja basilika Notre-Dame.
Aksi penyerangan terjadi di Gereja Notre Dame, Kota Nice, Prancis. (Foto: AP Photo/Daniel Cole)
Paris -

Pelaku penyerangan di Gereja Notre Dame di Kota Nice, Prancis yang menewaskan tiga orang teridentifikasi sebagai imigran Tunisia bernama Brahim Aouissaoui. Ia kini berada dalam kondisi kritis di rumah sakit.

"Tersangka berada di rumah sakit dalam kondisi kritis," kata Kepala Jaksa Anti-teroris Prancis, Jean-Francois Ricard, seperti dilansir Reuters, Jumat (30/10/2020).

Aouissaoui diketahui ditembak oleh polisi saat dirinya diamankan usai melakukan penusukan dan pemenggalan terhadap tiga orang di gereja Notre Dame. Ricard mengatakan pelaku penyerangan adalah seorang pria Tunisia yang lahir pada tahun 1999 dan telah tiba di Eropa pada 20 September lalu di Lampedusa, pulau Italia di lepas Tunisia, yang merupakan titik pendaratan utama bagi para migran dari Afrika.

Ricard mengatakan bahwa pria itu memasuki Kota Nice dengan kereta api pada Kamis (29/10) pagi waktu setempat dan pergi ke gereja. Di sana, ia menikam dan membunuh seorang pria berusia 55 tahun, dan memenggal kepala wanita berusia 60 tahun.

"Dia juga menikam seorang wanita berusia 44 tahun yang melarikan diri ke kafe terdekat tempat dia membunyikan alarm sebelum meninggal," kata Ricard.

Polisi kemudian datang dan mengamankan pelaku, lalu menembak hingga membuat pria Tunisia itu menderita luka-luka. Polisi juga menggeledah isi tas pria itu dan menemukan ada dua pisau lain yang tidak digunakan dalam penyerangan.

"Pada penyerang kami menemukan Al-Quran dan dua telepon, pisau yang digunakannya--30 cm dengan ujung tajam 17 cm. Kami juga menemukan tas yang ditinggalkan oleh penyerang. Di samping tas ini ada dua pisau yang tidak digunakan dalam penyerangan," kata Ricard.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis akan mengerahkan ribuan tentara lagi untuk melindungi situs-situs penting, seperti tempat ibadah dan sekolah, karena peringatan keamanan negara dinaikkan ke level tertinggi.

"Prancis telah diserang atas nilai-nilai kami, untuk selera kami akan kebebasan, untuk kemampuan di tanah kami untuk memiliki kebebasan berkeyakinan... Dan saya mengatakannya dengan sangat jelas lagi hari ini: Kami tidak akan memberi tanah apapun," kata Macron.

Sementara itu, Wakil Jaksa Agung di Pengadilan Tingkat Pertama Tunisia, Mohsen Dali, mengatakan kepada Reuters bahwa Aouissaoui tidak terdaftar oleh polisi di sana sebagai tersangka militan. Dia mengatakan Aouissaoui meninggalkan Tunisia pada 14 September dengan perahu, dan menambahkan bahwa Tunisia telah memulai penyelidikan forensiknya sendiri atas kasus tersebut.

(azr/mae)