Pemimpin Chechnya Sebut Presiden Prancis Menginspirasi Teroris

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 09:32 WIB
FILE - In this Tuesday, Jan. 24, 2017 file photo, French presidential candidate and former French Economy Minister Emmanuel Macron speaks during a press conference at the Government House, in downtown Beirut, Lebanon. French President Emmanuel Macron is traveling to Lebanon on Thursday Aug. 6, 2020, to offer support for the country after the massive, deadly explosion in Beirut. Lebanon is a former French protectorate and the countries retain close political and economic ties.  (AP Photo/Bilal Hussein, File)
Emmanuel Macron (AP Photo/Bilal Hussein, File)
Chechnya -

Pemimpin Chechnya, wilayah mayoritas Muslim di Rusia, menyebut Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah menginspirasi teroris dengan sikapnya yang membela publikasi karikatur Nabi Muhammad sebagai hak kebebasan berbicara.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (28/10/2020), Ramzan Kadyrov yang merupakan pemimpin Chechnya dan sekutu dekat Presiden Vladimir Putin menyampaikan komentar itu setelah otoritas Prancis memperingatkan warganya di sejumlah negara mayoritas Muslim untuk lebih berhati-hati dan waspada.

Diketahui bahwa kecaman dan kemarahan menghujani Prancis dan Macron setelah komentar kontroversialnya yang dianggap membela publikasi karikatur Nabi Muhammad, saat memimpin penghormatan untuk seorang guru bernama Samuel Paty yang tewas dipenggal seorang pemuda 18 tahun asal Chechnya. Paty dipenggal setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam kelasnya ketika membahas soal kebebasan berbicara.

Dalam komentarnya, Kadyrov mengecilkan fakta bahwa pembunuh Paty lahir di Chechnya, Rusia dan menyebutnya dibesarkan di Prancis.

Kaydrov melalui postingan Instagramnya, menyebut Macron salah untuk mengkarakterisasikan publikasi karikatur Nabi Muhammad sebagai kekebasan berbicara. Menurut Kadyrov, pembelaan yang dilakukan Macron justru menginspirasi teroris.

"Anda memaksa orang-orang ke dalam terorisme, mendorong orang-orang ke arahnya, tanpa memberikan mereka pilihan, menciptakan kondisi bagi tumbuhnya ekstremisme di dalam kepala anak-anak muda," sebutnya dalam pernyataan yang ditujukan untuk Macron.

"Anda bisa dengan berani menyebut diri Anda pemimpin dan inspirasi bagi terorisme di negara Anda," sindir Karyrov yang mantan pemberontak dan mendukung operasi militer Rusia memberantas militan di Chechnya dan sekitarnya.

Dalam pidatonya saat seremoni penghormatan yang digelar pekan lalu, Macron menyebut Paty sebagai 'pahlawan sunyi' dan bersumpah akan memerangi 'separatisme Islam' di Prancis. Tidak hanya itu, Macron juga bersumpah bahwa Prancis 'tidak akan menghentikan kartun (karikatur-red)' dan menyebut sang guru dibunuh 'karena Islamis menginginkan masa depan kita'.

Saat dimintai tanggapan oleh Reuters, seorang pejabat kepresidenan Prancis yang enggan disebut namanya menyatakan: "Kami tidak akan terintimidasi dan kami akan menyatakan bahwa mereka yang menebar kebencian, yang seperti dalam kasus Kadyrov, tidak bisa diterima."

(nvc/ita)