Puluhan Ribu Warga Bangladesh Turun ke Jalan Ikut Demo Anti-Prancis

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 15:57 WIB
Activists and supporters of the Islami Andolon Bangladesh, a Islamist political party, hold a protest march calling for the boycott of French products and denouncing French president Emmanuel Macron for his comments over Prophet Mohammed caricatures, in Dhaka on October 27, 2020. - Tens of thousands of protesters marched through the Bangladesh capital on October 27 calling for a boycott of French products and burning an effigy of President Emmanuel Macron after he defended cartoons depicting the Prophet Mohammed. (Photo by Munir UZ ZAMAN / AFP)
Puluhan ribu demonstran ikut unjuk rasa anti-Prancis di Dhaka, Bangladesh (AFP/MUNIR UZ ZAMAN)
Dhaka -

Puluhan ribu warga Bangladesh turun ke jalanan ibu kota Dhaka dalam unjuk rasa anti-Prancis. Dalam aksinya, demonstran menyerukan pemboikotan produk-produk Prancis dan membakar boneka Presiden Emmanuel Macron yang dikecam karena membela publikasi karikatur Nabi Muhammad.

Seperti dilansir AFP, Selasa (27/10/2020), kepolisian setempat memperkirakan ada lebih dari 40 ribu demonstran yang ikut aksi protes yang digelar oleh Islami Andolon Bangladesh (IAB), salah satu partai Islamis terbesar di Bangladesh.

Demonstran memulai aksinya di depan salah satu masjid terbesar di Bangladesh dan aksi long march mereka dihentikan sebelum berhasil mencapai Kedutaan Besar Prancis di Dhaka. Dalam aksinya, demonstran meneriakkan 'boikot produk Prancis' dan meminta Macron dihukum.

"Macron merupakan salah satu dari sedikit pemimpin yang menyembah setan," tuduh salah satu pejabat senior IAB, Ataur Rahman, dalam aksi di depan Masjid Nasional Baitul Mukarram.

Rahman juga meminta pemerintah Bangladesh untuk 'mengusir' Duta Besar Prancis dari Dhaka. Sementara pemimpin IAB lainnya, Hasan Jamal, menyatakan para aktivis akan merobohkan setiap batu bata gedung itu (Kedubes Prancis-red)' jika sang Dubes tidak diusir keluar.

"Prancis adalah musuh Muslim. Orang-orang yang mewakili mereka juga musuh kita," tegas seorang pemimpin muda IAB, Nesar Uddin.

Ratusan personel kepolisian menggunakan barikade kawat berduri untuk menghentikan para demonstran, yang akhirnya bubar tanpa kekerasan.

Macron menjadi target aksi protes di beberapa negara akibat komentar kontroversialnya, yang disampaikan saat memimpin penghormatan untuk seorang guru Prancis yang tewas dipenggal setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam salah satu kelasnya.

Dalam pidatonya, Macron menyatakan perang terhadap 'separatisme Islam', yang diyakininya telah mengambil alih sejumlah komunitas Muslim di Prancis. Dia juga bersumpah bahwa Prancis 'tidak akan menghentikan kartun (karikatur-red)'. Komentar ini dianggap beberapa pihak mendorong publikasi karikatur Nabi Muhammad.

Tonton juga video 'Kecaman Keras Erdogan kepada Macron dan Pemimpin Eropa':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/rdp)