Sebut Guru yang Dipenggal Martir, Imam di Prancis Ingatkan Bahaya Ekstremisme

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 03:34 WIB
People gather on Republique square during a demonstration Sunday Oct. 18, 2020 in Paris. Demonstrations around France have been called in support of freedom of speech and to pay tribute to a French history teacher who was beheaded near Paris after discussing caricatures of Islams Prophet Muhammad with his class. Samuel Paty was beheaded on Friday by a 18-year-old Moscow-born Chechen refugee who was shot dead by police. (AP Photo/Michel Euler)
Ribuan Orang Kumpul di Paris Protes Pemenggalan Guru (Foto: AP/Michel Euler)
Paris -

Seorang imam di Prancis mengatakan bahwa guru sejarah yang dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelas adalah seorang martir untuk kebebasan berbicara. Ia meminta masjid-masjid di Prancis berdoa untuk guru tersebut pada hari Jumat.

Dilansir Reuters, Senin (19/10/2020), imam masjid Drancy di pinggiran Paris, Hassen Chalghoumi, memperingatkan ekstremis Islam dan meminta orang tua untuk tidak memupuk kebencian terhadap Prancis.

Chalghoumi meletakkan bunga di luar sekolah pinggiran Kota Conflans-Sainte-Honorine, tempat guru sejarah bernama Samuel Paty itu mengajar. Chlaghoumi, yang ditemani para pemimpin Muslim lainnya, mengatakan sudah waktunya bagi komunitas Muslim untuk waspada terhadap bahaya ekstremisme Islam.

"(Guru itu) adalah seorang martir bagi kebebasan berekspresi, dan orang bijak yang telah mengajarkan toleransi, peradaban, dan rasa hormat kepada orang lain," kata Chalghoumi, yang juga merupakan Ketua Konfederasi Imam Prancis yang secara teratur menyerukan toleransi antaragama.

Dia mengatakan otoritas Muslim harus melihat kasus pemenggalan itu sebagai seruan untuk bertindak. "Rektor masjid, imam, orang tua, kelompok masyarakat sipil, bangunlah, masa depan Anda dipertaruhkan," ujarnya.

Dia mengatakan ekstremis Islam di Prancis terorganisir dengan baik. Menurutnya, para ekstremis itu juga tahu bagaimana menggunakan sistem hukum dan seberapa jauh mereka bisa melangkah.

"Kita perlu mengakhiri wacana viktimisasi. Kita semua memiliki hak di Prancis, seperti orang lain. Orang tua harus memberi tahu anak-anaknya tentang kebaikan yang ada di republik ini," ujar Chalghoumi.

(azr/azr)