1,1 Juta Penduduk Rakhine Kehilangan Hak Suara di Pemilihan Myanmar

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 04:15 WIB
Residents, who fled from conflict between the Myanmar army and the Arakan Army (AA), arrive at a temporary refugee camp at a monastery in Sittwe, Rakhine State on June 29, 2020. (Photo by - / AFP)
Penduduk Rakhine State, Maynmar (Foto: AFP/-)
Yangon -

Komisi pemilihan mengatakan lebih dari 1,1 juta pemilih di negara bagian Rakhine barat, Myanmar akan dicabut hak suaranya dalam pemilihan mendatang. Ahli memperingatkan langkah itu akan memicu konflik.

Dilansir AFP, Sabtu (17/10/2020), Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memperkirakan, Aung San Suu Kyi akan kembali berkuasa dalam pemilihan 8 November mendatang. Hal ini menjadikan Aung San Suu Kyi untuk pertama kalinya menjabat dua periode sejak Myanmar lepas dari kekuasaan militer langsung.

Hampir semua Muslim Rohingya dilucuti dari kewarganegaraan dan hak suara. Banyak pengamat telah menolak pemungutan suara karena diduga kurung kredibelitas.

Komisi pemilihan mengatakan, alasan keamanan menjadi salah satu hilangnya hak suara itu. Mereka menyebut pemilihan tidak akan dilakukan di daerah dengan ratusan ribu lebih termasuk lebih dari 800.000 di Rakhine.

Lebih dari setengah dari 600.000 Rohingnya yang tersisa di Myanmar tinggal di Rakhine, sehingga jumlah total orang yang akan kehilangan suaranya di negara bagian itu lebih dari 1,1 juta. Artinya lebih dari dua pertiga dari jumlah populasi negara.

"Daerah-daerah tertentu tidak dapat menjamin kondisi untuk menyelenggarakan pemilihan yang bebas dan adil dan itulah mengapa pemilihan dibatalkan," bunyi pengumuman yang dari komisi pemilihan pada Jumat (16/10) waktu setempat.

Satu juta lebih penduduk Rohingya tanpa kewarganegaraan mendekam di kamp pengungsian di Bangladesh. Militan Arakan Army (AA) terkunci dalam pertempuran militer di pinggiran utara Rakhine saat mereka memperjuangkan lebih banyak otonomi untuk etnis Buddha Rakhine.

Selanjutnya
Halaman
1 2