Ujaran Kebencian Anti-Rohingya Masih Beredar di Facebook Malaysia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 08:05 WIB
dw
Hingga 2016 warga Malaysia masih aktif berdemonstrasi menentang persekusi dan diskriminasi terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Kini situasinya berubah.
Jakarta -

Enam bulan silam jagad Facebook Malaysia dipenuhi ujaran kebencian terhadap etnis Rohingya yang mencari suaka. Hingga kini, ragam laman yang berisikan komentar pedas dan penuh permusuhan itu masih dibiarkan beredar oleh Facebook. Dua laman, Anti Rohingya Club dan Foreigners Mar Malaysia's Image, baru diturunkan setelah dilaporkan oleh kantor berita Reuters baru-baru ini.

"Aku harap mereka semua mati, kelompok etnis terkutuk ini," bunyi sebuah komentar di salah satu grup tertutup yang beranggotakan 100.000 pengguna.

Padahal 2018 silam Facebook didera kecaman lantaran dinilai membiarkan ujaran kebencian kepada Rohingya di Myanmar. Atas dasar itu, Facebook pada 2019 lalu berkomitmen menginvestasikan USD 3.7 miliar untuk membersihkan platformnya dari ujaran kebencian dan kelompok-kelompok yang aktif menyebar hasutan terhadap minoritas.

Facebook sendiri menilai "tuduhan bahwa kami tidak berkomitmen menanggulangi isu keamanan dan keselamatan pengguna adalah tidak akurat, dan tidak merefleksikan investasi signifikan yang kami buat untuk mengatasi masalah konten berbahaya," kata seorang jurubicaranya.

Namun demikian, Reuters menemukan puluhan laman dan grup di Faccebook yang menggunakan bahasa-bahasa diskriminatif tentang Rohingya dan migran ilegal. Beberapa di antaranya dioperasikan oleh bekas atau pejabat aktif otoritas keamanan Malaysia.

Tindak kekerasan lewat ujaran kebencian

Reuters mendapati, ujaran kebencian paling banyak disebar di grup-grup privat yang menyaring keanggotaan. Menurut kantor berita asal London itu, Facebook menonaktifkan 12 dari 36 grup yang dilaporkan Reuters dan sejumlah unggahan bernada hasutan.

"Kami tidak mengizinkan pengguna mengunggah ujaran kebencian atau ancaman tindak kekerasan di Facebook dan kami akan menghapus konten ini secepat mungkin," tulis Facebook.

Sejumlah laman yang dibiarkan online mengandung komentar yang membandingkan Rohingya dengan anjing dan parasit. Beberapa yang lain membocorkan lokasi keberadaan pengungsi Rohingya dan meminta aparat keamanan menindak mereka.

"Ujaran semacam ini bisa berujung pada tindak kekerasan fisik dan persekusi terhadap kelompok etnis ini. Kita sudah pernah melihatnya di Myanmar," kata John Quinly, pegiat senior HAM di lembaga HAM untuk Asia Tenggara, Fortify Rights. "Akan sangat tidak bertanggungjawab jika Facebook tidak secara aktif menutup laman dan grup antipengungsi atau anti-Rohingnya."

Publik Malaysia awalnya menyambut kedatangan pelarian Rohingya dari Myanmar. Meski begitu, pengungsi Rohingya di Malaysia yang kini berjumlah 100.000 orang itu tidak diizinkan membangun kehidupan normal seperti mencari pekerjaan atau bersekolah di institut pendidikan publik.

Sentimen publik mulai berubah pada April silam, ketika etnis Rohingya dituduh ikut menyebarkan virus corona. Buntutnya ujaran kebencian mulai memenuhi kanal-kanal media sosial. Sebanyak 70% penduduk Malaysia yang berjumlah 32 juta orang tercatat menggunakan Facebook.

Hasutan oleh negara?

"Warga Malaysia yang hidup bersama pengungsi Rohingya selama bertahun-tahun, kini mulai melaporkan kami kepada polisi. Beberapa sudah kehilangan pekerjaan. Kami hidup dalam ketakutan," kata Abu, seorang pengungsi Rohingya yang enggan membocorkan identitas pribadinya.

Seorang pengungsi lain mengaku terpaksa harus menutup akun Facebooknya, setelah mendapat pesan yang mengusirnya agar kembali ke Myanmar. "Facebook sudah gagal. Mereka tidak mengerti betapa bahayanya komentar-komentar seperti itu," kata dia, merujuk pada ragam pesan di Malaysia yang mendukung persekusi Rohingya oleh Myanmar.

Kelompok HAM menuduh pemerintah Malaysia ikut bertanggungjawab atas maraknya xenofobia, dengan mengurung kaum migran dalam kamp-kamp isolasi dan menyatakan tidak lagi menerima pengungsi Rohingya. "Tidak ada upaya dari pemerintah Malaysia untuk mencegah gelombang ujaran kebencian," kata Phil Robertson, Wakil Direktur Asia untuk Human Rights Watch.

Reuters menemukan empat laman Facebook yang berkaitan dengan otoritas keamanan dan menyuarakan sentimen antipengungsi. "Mari jauhi kanker berupa kelompok etnis ini," tulis administrator di sebuah grup yang bernama "Friends of Immigration." Menurut keterangan di laman sendiri, grup itu dikelola oleh bekas pejabat dan pejabat aktif imigrasi."

Unggahan dari bulan April itu dicabut setelah Reuters melapor ke Facebook.

Salah satu unggahan yang memicu komentar kejam agar pengungsi Rohingya ditembak mati berasal dari Kantor Pusat Angkatan Tentera Malaysia (ATM) yang meminta pengguna agar menjadi "mata dan telinga" terkait migran ilegal. Seorang jurubicara ATM membenarkan unggahan tersebut berasal dari lembaganya.

Unggahan lain yang dibagikan sebanyak 26.000 kali berasal dari laman Korps Intelijen Militer Kerajaan yang menulis migran ilegal "akan membawa masalah kepada kita semua." Pihak militer mengatakan laman itu dikelola oleh bekas perwira dinas rahasia.

rzn/hp (Reuters)

(ita/ita)