Wabah Norovirus Tengah Melanda China, Apa Bedanya dengan Corona?

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 13:59 WIB
Sars-CoV-19 test tube in purple protective glove, virus illustration on computer screen in background
ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/PS3000)

Pada Februari 2019, otoritas China memberikan izin untuk uji klinis bagi vaksin tetravalen pertama di dunia dalam melawan norovirus. Dilaporkan Xinhua News Agency bahwa vaksin tersebut, setelah pengembangan selama 4 tahun, secara teoritis bisa mencegah 80-90 persen infeksi norovirus.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China menyebutkan bahwa lebih dari 30 wabah norovirus dilaporkan secara nasional sejak September lalu. Wabah-wabah itu melibatkan sekitar 1.500 kasus norovirus, yang sebagian besar muncul di kantin-kantin kampus di mana banyak orang jatuh sakit usai mengkonsumsi makanan terkontaminasi atau makanan busuk.

Para pasien dilaporkan seringkali mengalami gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, sakit perut dan diare dalam waktu 24 jam setelah makan.

Dalam keterangannya pekan lalu, pihak Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanxi yang dilanda wabah norovirus menyatakan bahwa kondisi para mahasiswa yang jatuh sakit telah membaik dan beberapa bahkan sudah sembuh.

Hasil pemeriksaan oleh Departemen Pengawas Kesehatan setempat tidak menemukan satupun sumber makanan terkontaminasi yang mungkin menyebabkan wabah itu. Air minum dan air keran kampus tersebut juga dinyatakan bukan penyebab wabah norovirus ini. Meskipun demikian, beberapa mahasiswa menyatakan kekhawatiran soal keamanan makanan.

"Mengingat musim saat ini, berbagai penyakit usus yang relatif tinggi bukanlah hal yang tidak umum," sebut Direktur Departemen Penyakit Menular pada Rumah Sakit Tsinghua Canggung Beijing, Lin Minggui, kepada surat kabar Health Times.

Lin menekankan bahwa infeksi norovirus kebanyakan terjadi di sekolah dan universitas, yang mengekspose kelemahan dalam sistem layanan kesehatan publik di China.


(nvc/ita)