Mossad Israel Bahas 'Kerja Sama' dengan Bahrain

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 02:38 WIB
Israeli youths take part in a demonstration against their Prime Minister and an imminent and unprecedented second nationwide lockdown to tackle a spike in coronavirus, in the coastal city of Tel Aviv, on September 17, 2020. - The measures will be imposed hours ahead of Jewish New Year, known as Rosh Hashana, and extend for three weeks over other holidays including Yom Kippur and Sukkot.
Israel has the worlds second-highest virus infection rate after Bahrain, according to an AFP tally. (Photo by JACK GUEZ / AFP)
Foto: Ilustrasi (AFP/JACK GUEZ)
Manama -

Kepala badan intelijen Israel Mossad Yossi Cohen telah mengadakan pembicaraan di Bahrain dengan pejabat tinggi keamanan dan intelijen. Hal itu berdasarkan laporan media pemerintah Bahrain setelah negara mereka setuju untuk menormalkan hubungan.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (1/10/2020), Cohen mengunjungi Bahrain pada Rabu (30/9) dan membahas "topik kepentingan bersama" serta "kerja sama antara kedua negara" dengan para pejabat Bahrain, menurut Kantor Berita Bahrain (BNA).

"Mereka menekankan pentingnya...peran (kesepakatan normalisasi) akan berperan secara signifikan untuk mempromosikan stabilitas dan perdamaian di kawasan," tambah BNA.

Kesepakatan menormalkan hubungan yang ditengahi Amerika Serikat (AS) 15 September lalu ditandatangani di Washington pada saat yang sama dengan perjanjian normalisasi Israel-Uni Emirat Arab (UEA).

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu melakukan perjalanan ke Ibu Kota AS itu untuk menghadiri upacara penandatanganan kesepakatan bersama dengan kepala urusan luar negeri dari dua monarki Arab di Teluk.

Bahrain dan Uni Emirat Arab menjadi negara Arab ketiga dan keempat yang menormalisasi hubungan dengan Israel, menyusul perjanjian damai Yordania tahun 1994 dengan negara Yahudi itu dan kesepakatan damai Mesir pada 1979.

Palestina telah mengutuk kesepakatan Teluk yang ditengahi AS dengan Israel sebagai 'tikaman di belakang' atas aspirasi mereka untuk mendirikan negara merdeka sendiri.

(rfs/rfs)