Di Sidang Umum PBB, PM Australia Tegaskan Dunia Perlu Tahu Asal COVID-19

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2020 13:12 WIB
RETRANSMISSION TO CORRECT DATE - In this photo made from UNTV video, Scott Morrison, Prime Minister of Australia, speaks in a pre-recorded message which was played during the 75th session of the United Nations General Assembly, Friday, Sept. 25, 2020, at UN Headquarters. (UNTV Via AP )
Scott Morrison (UNTV Via AP)
Canberra -

Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison, menegaskan bahwa negara-negara di dunia harus melakukan semua hal yang mereka mampu untuk memahami asal-usul virus Corona (COVID-19). Penegasan ini berpotensi memperburuk ketegangan dengan China.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (26/9/2020), PM Morrison menyampaikan pidatonya dalam Sidang Umum Majelis Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) via teleconference video link pada Sabtu (26/9) waktu setempat.

Dalam pidatonya, PM Morrison menyatakan penyelidikan terhadap asal-usul virus COVID-19 akan meminimalkan ancaman pandemi global lainnya.

"Virus ini telah menyebabkan malapetaka bagi dunia kita dan orang-orangnya. Kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk memahami apa yang terjadi tanpa tujuan lain selain untuk mencegahnya terjadi," cetus PM Morrison dalam pidatonya.

"Ada mandat yang jelas untuk mengidentifikasi sumber zoonosis dari virus COVID-19 dan bagaimana penularannya ke manusia," tegasnya.

Pernyataan PM Morrison itu mirip dengan komentar yang disampaikannya pada awal tahun ini, yang memperburuk hubungan antara Australia dan China. Saat itu, PM Morrison memimpin tuntutan global untuk menyelidiki asal-usul virus Corona. China menolak keras langkah itu, dengan Duta Besar China untuk Canberra memperingatkan bahwa seruan penyelidikan bisa memperburuk hubungan perdagangan kedua negara.

Sejak saat itu, China memberlakukan sanksi perdagangan terhadap Australia. Negara itu menangguhkan beberapa impor daging sapi secara teknis dan secara efektif memblokir perdagangan jelai senilai AUS$ 439 juta dengan menerapkan tarif 80,5 persen pada impor Australia. Tidak hanya itu, China juga meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor wine Australia.

Sementara itu, Australia juga menyerukan semua negara untuk berbagi pasokan vaksin Corona begitu ada yang sukses. Awal tahun ini, Australia menandatangani perjanjian vaksin dengan AstraZeneca, dengan batch pertama dijadwalkan mulai disalurkan pada Januari 2021 jika uji coba terbukti berhasil.

Otoritas Australia menyatakan negaranya akan berbagi pasokan vaksin Corona dengan negara-negara Kepulauan Pasifik yang lebih kecil.

(nvc/idh)