Mesir Tangkap Saksi Kasus Pemerkosaan Beramai-ramai di Hotel Mewah

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 25 Sep 2020 14:18 WIB
Gerakan #MeToo di Mesir terancam usai saksi kasus pemerkosaan ditangkap (AFP Photo)
Foto: Gerakan #MeToo di Mesir terancam usai saksi kasus pemerkosaan ditangkap (AFP Photo)
Kairo -

Iklim ketakutan mencengkeram gerakan #MeToo di Mesir karena penangkapan saksi dalam kasus pemerkosaan yang menghebohkan negara itu. Penangkapan ini mengancam upaya untuk melawan kekerasan seksual kaum laki-laki di Mesir.

Dilansir AFP, Jumat (25/9/2020), sembilan pria dari keluarga kaya diduga membius dan memperkosa seorang wanita muda di hotel mewah Fairmont, Kairo dan menyebarkan video pemerkosaan itu.

Aksi pemerkosaan itu diduga terjadi pada tahun 2014. Namun tuduhan tersebut baru muncul usai viral bulan Juli lalu. Pengaduan diajukan pada awal Agustus.

Lima tersangka ditangkap, tiga di antaranya berada di Lebanon, yang menyerahkan mereka kepada pihak berwenang Mesir minggu ini.

Empat tersangka lainnya melarikan diri ke Inggris dan AS, menurut seorang aktivis perempuan yang terkait dengan kasus ini.
Namun, berbagai peristiwa berubah drastis.

Pada akhir bulan lalu, pihak berwenang juga menangkap empat saksi, bersama dengan dua orang yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kasus tersebut, menurut Human Rights Watch (HRW).

Pemantau hak asasi yang berbasis di AS itu mengatakan enam orang itu dituduh "melanggar undang-undang tentang 'moralitas' dan 'pesta pora'".

Beberapa dipaksa untuk mengubah akun mereka, demikian menurut HRW mengutip informasi dari para aktivis.

Hoda al-Sadda, seorang akademisi di Universitas Kairo, menyatakan keprihatinannya atas perkembangan tersebut.

"Kasus yang jelas dengan bukti nyata berubah menjadi kasus di mana pelakunya menjadi korban dan saksi dituduh. Menakutkan," kata Sadda.

Beberapa saksi yang ditahan juga menjadi sasaran kampanye kotor, dengan gambar yang disebar di internet.

Ini bukan pertama kalinya mereka yang mengecam kekerasan terhadap perempuan di Mesir justru menjadi sasaran.

Awal tahun ini, remaja bernama Menna Abdel-Aziz, dengan wajah babak belur dan memar, memposting video di media sosial di mana dia mengatakan bahwa dia telah diperkosa secara beramai-ramai.

Tanggapan pihak berwenang cepat: mereka menangkap para tersangka penyerang, bersama dengan gadis berusia 17 tahun itu, menuduh mereka semua "mempromosikan pesta pora".

Bahkan influencer media sosial wanita telah menjadi perhatian pihak berwenang. Pada Juli, lima orang dijatuhi hukuman penjara atas tuduhan melanggar moral publik atas konten yang diposting ke aplikasi berbagi video TikTok.

(rdp/ita)