Inggris Sebut Agen Rusia Hampir Pasti Ada di Balik Diracunnya Navalny

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 17 Sep 2020 13:03 WIB
FILE - In this Wednesday, Sept. 5, 2018 file photo Russian opposition leader Alexei Navalny stands during a break in the hearing on his appeal in a court in Moscow, Russia. The German hospital treating Russian opposition leader Alexei Navalny says he has been taking out of an induced coma and is responsive. Berlins Charite hospital said Monday that Navalnys condition has further improved, allowing doctors to end the medically induced coma and gradually ease him off mechanical ventilation. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)
Alexei Navalny (AP Photo/Pavel Golovkin)
Washington DC -

Pemerintah Inggris menegaskan bahwa Rusia masih harus menjawab berbagai pertanyaan soal dugaan diracunnya tokoh oposisi Alexei Navalny. Inggris menyatakan bahwa hampir pasti agen intelijen Rusia yang melancarkan serangan terhadap Navalny dengan agen saraf Novichok.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (17/9/2020), Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, menyatakan dirinya menyambut baik kabar pemulihan Navalny yang kini dirawat di sebuah rumah sakit di Berlin, Jerman.

Namun Raab menegaskan bahwa Rusia masih harus memberi penjelasan soal kasus Navany, terutama mengetahui bahwa penggunaan senjata kimia tidak dapat diterima.

"Pemerintah Rusia berkewajiban untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Navalny," tegas Raab saat berbicara di Washington DC, Amerika Serikat (AS), di sebelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

"Dari sudut pandang Inggris, sangat sulit untuk melihat penjelasan alternatif lain yang masuk akal untuk hal ini selain dilakukan oleh dinas intelijen Rusia, tapi yang pasti pemerintah Rusia memiliki kasus untuk dijawab," ujarnya.

Pada Selasa (15/9) waktu setempat, Navalny membagikan sebuah foto dirinya duduk di tempat tidur rumah sakit di Berlin, dikelilingi oleh keluarganya. Dalam postingan media sosialnya, Navalny menuturkan dirinya kini sudah bisa bernapas sendiri tanpa bantuan alat.

Navalny yang dijuluki sebagai pengkritik dan rival utama Presiden Vladimir Putin ini jatuh sakit di dalam penerbangan domestik di Siberia, bulan lalu. Dia sempat dirawat di rumah sakit lokal sebelum akhirnya diterbangkan ke Jerman untuk menjalani perawatan medis lebih lanjut.

Otoritas Jerman dalam pengumumannya menyatakan bahwa tes laboratorium di tiga negara telah menyatakan bahwa Navalny diracun dengan agen saraf Novichok, yang juga dikenal sebagai senjata kimia yang dikembangkan pada era-Soviet. Pemerintah negara-negara Barat telah meminta penjelasan dari Rusia terkait hal tersebut.

Rusia telah menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan yang menyebut pemerintahannya terlibat kasus Navalny sebagai tuduhan tidak berdasar.

(nvc/ita)