Iran Sebut Perjanjian Bahrain-Israel 'Pengkhianatan Besar' untuk Palestina

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 11:36 WIB
Bendera Iran
Ilustrasi (REUTERS/Morteza Nikoubazl)
Teheran -

Otoritas Iran mengkritik perjanjian damai antara Bahrain dan Israel yang baru saja diumumkan. Seorang pejabat Iran menyebut perjanjian damai itu sebagai 'pengkhianatan besar' bagi perjuangan Palestina.

"Para pemimpin lalai di UEA (Uni Emirat Arab-red), #Bahrain tidak seharusnya membuka jalan bagi skema Zionis. Mereka harus belajar dari sejarah," tegas seorang pejabat Iran, Hossein Amir-Abdollahian, yang merupakan penasihat khusus urusan luar negeri bagi Ketua Parlemen Iran, seperti dilansir Reuters, Sabtu (12/9/2020).

Amir-Abdollahian yang juga mantan Wakil Menteri Luar Negeri Iran ini menyebut upaya Amerika Serikat (AS) dalam memediasi perdamaian di Timur Tengah telah 'usang selama bertahun-tahun'.

Perjanjian damai antara Bahrain dan Israel diumumkan Presiden AS, Donald Trump, yang menjadi penengah pada Jumat (11/9) waktu setempat. Dengan perjanjian itu, Bahrain menjadi negara Arab keempat yang menormalisasi hubungan dengan Israel, setelah Mesir, Yordania dan UEA.

Sama seperti perjanjian damai dengan UEA, perjanjian Bahrain-Israel juga mengatur normalisasi hubungan diplomatik, komersial, keamanan dan hubungan lainnya antara kedua negara. UEA terlebih dulu sepakat menormalisasi hubungan dengan Israel, yang diumumkan Trump pada bulan lalu.

Kecaman terhadap perjanjian damai Bahrain dan Israel itu juga datang dari Turki. Otoritas Turki menyebut perjanjian damai itu akan menjadi pukulan baru bagi upaya membela perjuangan Palestina.

"Ini selanjutnya akan mendorong Israel untuk melanjutkan praktik tidak sah terhadap Palestina dan upaya-upayanya untuk menjadikan pendudukan tanah Palestina, permanen," tegas Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya.

Otoritas Palestina juga mengecam keras perjanjian damai itu. Seorang pejabat senior Palestina, Wasel Abu Yousef, sebelumnya menyebut perjanjian Bahrain dan Israel itu sebagai 'pengkhianatan' terhadap Palestina.

"Ini adalah tikaman lain di punggung bagi perjuangan Palestina, rakyat Palestina dan hak-hak mereka," sebut Abu Yousef. "Ini pengkhianatan terhadap Yerusalem dan Palestina ... Kami sama sekali tidak melihat pembenaran untuk normalisasi gratis dengan Israel ini," cetusnya.

(nvc/idh)