Jerman Sebut Alexei Navalny Diracun, Trump: Ini Tragis, Mengerikan!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2020 14:47 WIB
FILE - In this file photo taken on Saturday, Feb. 29, 2020, Russian opposition activist Alexei Navalny takes part in a march in memory of opposition leader Boris Nemtsov in Moscow, Russia. The German hospital treating Russian dissident Alexei Navalny says tests indicate that he was poisoned. The Charité hospital said in a statement Monday, Aug. 24, 2020 that the team of doctors who have been examining Navalny since he was admitted Saturday have found the presence of “cholinesterase inhibitors” in his system. Cholinesterase inhibitors are a broad range of substances that are found in several drugs, but also pesticides and nerve agents. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)
Alexei Navalny (Foto: AP Photo/Pavel Golovkin)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya belum melihat bukti bahwa pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny telah diracuni seperti yang dinyatakan oleh Jerman.

"Saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya pikir ini tragis, mengerikan, seharusnya ini tidak terjadi," kata Trump.

"Kami belum memiliki bukti apa pun, tetapi saya akan melihatnya," kata Trump dalam konferensi pers seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (5/9/2020).

Trump mengatakan dia telah mendengar Jerman telah menemukan bahwa Navalny, yang jatuh sakit dalam penerbangan Siberia bulan lalu, telah diracuni dengan zat saraf Novichok yang mematikan.

Sejak itu Eropa mengancam sanksi baru dan NATO menyerukan penyelidikan internasional atas dugaan percobaan pembunuhan tersebut.

Jerman telah memberi tahu mitra NATO-nya dan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan ada "bukti yang tidak diragukan lagi" bahwa Navalny diracun dengan Novichok.

"Kami sendiri belum melihatnya," kata Trump tentang bukti dari penyelidik Jerman tersebut.

"Saya akan sangat marah jika itu masalahnya," katanya.

Trump tidak mengatakan tindakan apa yang akan dia ambil jika yakin bahwa lawan politik Presiden Rusia Vladimir Putin yang paling kuat itu telah menjadi korban dari rencana pembunuhan.

(ita/ita)