Hakim Lebanon Terbitkan 5 Surat Perintah Penangkapan Atas Kasus Ledakan Beirut

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 01 Sep 2020 04:06 WIB
Ledakan Beirut: Negara-negara yang menimbun bahan peledak berbahaya
Kondisi pascaledakan Beirut (Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Seorang hakim Lebanon yang memimpin penyelidikan atas ledakan pelabuhan mematikan di Beirut mengeluarkan lima surat perintah penangkapan baru pada hari Senin. Kelima surat itu diketahui, untuk dua pejabat dan tiga pekerja Suriah, kata sumber pengadilan.

"Hakim investigasi Fadi Sawan menginterogasi direktur transportasi darat dan laut, Abdel Hafiz Kaissi, dan direktur pelabuhan, Mohammed al-Mawla ... kemudian mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap mereka," kata sumber itu, seperti dilansir ari AFP, Selasa (1/9/2020).

Dia kemudian mempertanyakan dan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk tiga pekerja Suriah yang ditahan yang diduga melakukan pengelasan di gudang nomor 12 di pelabuhan, beberapa jam sebelum ledakan, sumber itu menambahkan.

Langkah itu menambah jumlah orang yang ditangkap dalam penyelidikan Libanon terhadap ledakan monster di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus menjadi 21 orang yang menewaskan sedikitnya 188 orang, melukai ribuan orang, dan memporak-porandakan kota.

Ratusan ton amonium nitrat telah disimpan dengan tidak aman di gudang selama setidaknya enam tahun, itu muncul setelah ledakan, memicu kemarahan yang meluas atas dugaan kelalaian resmi yang menurut banyak orang sebagai penyebab ledakan itu.

Sawan diharapkan untuk memeriksa empat pejabat pelabuhan lagi pada hari Selasa, kata sumber itu.

Masih belum jelas apa sebenarnya yang memicu ledakan tersebut. Sumber keamanan menyarankan pekerjaan pengelasan bisa memicu kebakaran yang memicu ledakan, tetapi beberapa pengamat menolak ini karena teori yang didorong oleh pihak berwenang.

Lebanon telah menolak penyelidikan internasional atas bencana waktu damai terburuk di negara itu, tetapi penyelidikan Lebanon dibantu oleh para ahli asing, termasuk dari Biro Investigasi Federal AS.

Prancis, yang termasuk di antara beberapa warganya yang tewas, telah meluncurkan penyelidikannya sendiri.

(eva/eva)