Round-Up

Turki Makin Ngegas di Tengah Hubungan dengan Yunani yang Memanas

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 28 Agu 2020 20:07 WIB
Turki dan Yunani Bersitegang di Timur Laut Tengah
Foto: Yunani dan Turki bersitegang (DW News)

Yunani menyebut keberadaan kapal-kapal perang secara berkelanjutan di wilayah perairan yang diklaim oleh Yunani sebagai 'tidak sah dan ilegal'.

Dua negara anggota NATO itu sama-sama menggelar latihan militer di tengah konflik yang bisa mengancam akses Eropa terhadap sumber energi baru dan mengancam untuk menyeret Libya yang dilanda konflik dan negara-negara lain di Timur Tengah. Sebagaimana diketahui, hubungan Yunani dan Turki memanas karena dipicu dari isu perubahan Hagia Sophia menjadi masjid hingga konflik laut lepas.

Jelang rapat Menteri Luar Negeri Uni Eropa di Berlin untuk membahas krisis ini, Jerman menyatakan bahwa Turki dan Yunani harus mengakhiri manuver-manuver Angkatan Laut mereka jika benar-benar menginginkan solusi damai.

"Prasyarat untuk (perundingan langsung) adalah agar manuver di Mediterania timur dihentikan," tegas Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, juga melibatkan diri dalam krisis ini. Trump berbicara pada Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada Rabu (26/8) waktu setempat. Gedung Putih menyatakan bahwa Trump 'menyampaikan kekhawatiran atas ketegangan yang meningkat antara sekutu NATO, Yunani dan Turki'.

PM Mitsotakis menyatakan bahwa Yunani 'siap untuk melakukan de-eskalasi signifikan -- namun dengan syarat Turki segera menghentikan tindakan provokatifnya'. Sementara itu, Erdogan telah menolak setiap prasyarat untuk berunding dengan Yunani.


(rdp/rdp)