Ribut dengan Yunani, Turki Malah Perpanjang Eksplorasi Gas di Mediterania

ADVERTISEMENT

Ribut dengan Yunani, Turki Malah Perpanjang Eksplorasi Gas di Mediterania

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 28 Agu 2020 10:21 WIB
US destroyer USS Winston S. Churchill, rear, along with Turkish frigate TCG Barbaros conduct maritime trainings in the Eastern Mediterranean, Wednesday, Aug. 26, 2020, to improve coordination and interoperability.(Turkish Defense Ministry via AP, Pool)
Kapal militer Turki melakukan latihan militer bersama kapal militer AS di Mediterania Timur (Turkish Defense Ministry via AP, Pool)
Ankara -

Pemerintah Turki memutuskan untuk memperpanjang misi eksplorasi gas Mediterania yang kontroversial. Turki juga memerintahkan latihan militer baru di tengah perselisihannya dengan Yunani dan Prancis terkait isu energi dan perbatasan.

Seperti dilansir AFP, Jumat (28/8/2020), Angkatan Laut Turki menyatakan pihaknya memperpanjang masa tinggal kapal penelitian Oruc Reis dan kapal-kapal perang yang mendampinginya di perairan yang diklaim oleh Yunani. Kapal-kapal itu akan tetap menjalankan misi eksplorasi gas Mediterania selama lima hari ke depan, atau hingga Selasa (1/9) mendatang.

Diumumkan juga oleh Angkatan Laut Turki bahwa rencana untuk menggelar 'latihan tembak senjata berat' di tepi wilayah perairannya di sudut timur laut Mediterania akan digelar pada Selasa (1/9) dan Rabu (2/9) mendatang.

Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, menyatakan bahwa latihan tembak itu tidak terkait dengan perselisihan Turki dengan Yunani terkait akses ke lokasi cadangan gas yang baru ditemukan. Diketahui bahwa cadangan gas itu menawarkan sumber energi baru yang sangat besar bagi Eropa dan memutus ketergantungan pada Rusia.

Namun, Akar juga secara tegas bersumpah akan melanjutkan aktivitas eksplorasi Turki di perairan timur Mediterania 'selama mungkin yang dibutuhkan'. "Kami bertekad untuk melindungi hak-hak kami," tegasnya.

Dalam tanggapannya, Yunani menyebut keputusan Turki untuk memperpanjang upaya penelitian seismik di tenggara Crete, menunjukkan penolakan Turki untuk meredakan krisis yang terjadi.

"Sekali lagi terlihat siapa yang menginginkan de-eskalasi dan siapa yang tidak," sebut sumber diplomatik Yunani yang enggan disebut namanya.

Yunani menyebut keberadaan kapal-kapal perang secara berkelanjutan di wilayah perairan yang diklaim oleh Yunani sebagai 'tidak sah dan ilegal'.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT