Round-Up

Seumur Hidup di Terungku Bagi Pembantai 51 Muslim di Selandia Baru

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 22:47 WIB
CHRISTCHURCH, NEW ZEALAND - AUGUST 26: (EDITORS NOTE: Parts of this image have been pixelated at source to conceal the identity of the Police officers.) Christchurch mosque gunman Brenton Tarrant arrives for his sentencing hearing at Christchurch High Court on August 26, 2020 in Christchurch, New Zealand. Brenton Harrison Tarrant was found guilty of 92 charges relating to New Zealands worst mass shooting in history. The Australian was charged with 51 counts of murder and 40 of attempted murder as well as a engaging in a Terrorist Act after opening fire at Al Noor Mosque and the Linwood Islamic Centre in Christchurch on Friday, 15 March 2019. 50 people were killed, and dozens were injured while another man died later in hospital. (Photo by John Kirk-Anderson - Pool/Getty Images)
Foto: Brenton Tarrant (Getty Images/Pool)
Jakarta -

Brenton Harrison Tarrant yang merupakan pembantai 51 muslim di dua masjid di Selandia Baru dijatuhi hukuman bui seumur hidup. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern puas pembantai itu akan hidup seumur hidup di terungku.

Seperti dilansir dari Associated Press (AP), Kamis (27/8/2020), hakim menjatuhkan hukuman maksimum kepada pria penganut supremasi kulit putih asal Australia itu. Ini merupakan pertama kalinya hukuman penjara seumur hidup diterapkan di Selandia Baru.

Hakim Cameron Mander mengatakan kejahatan Tarrant begitu keji sehingga seumur hidup dipenjara tidak bisa menebusnya. Dia mengatakan bahwa Tarrant telah menyebabkan luka yang sangat besar dan berasal dari ideologi yang menyesatkan dan ganas.

"Tindakan Anda tidak manusiawi," kata Mander. "Anda sengaja membunuh bayi berusia 3 tahun saat dia menempel di kaki ayahnya," imbuh hakim.

Serangan pada Maret 2019 yang menargetkan orang-orang yang salat di masjid Al Noor dan Linwood tersebut telah membuat Selandia Baru geger. Peristiwa brutal ini juga mendorong undang-undang baru yang melarang jenis senjata semi-otomatis paling mematikan. Kejadian itu juga mendorong perubahan global pada protokol media sosial setelah pria bersenjata itu menyiarkan langsung serangannya di Facebook.

Selama sidang vonis yang berlangsung empat hari, 90 orang yang selamat dan anggota keluarga menceritakan kengerian serangan dan trauma yang terus mereka rasakan.

Beberapa orang memilih untuk meneriaki pria bersenjata itu dan mengacunginya jari tengah. Yang lain memanggilnya monster, pengecut, tikus. Beberapa menyanyikan ayat-ayat Alquran atau menyapanya dalam bahasa Arab. Beberapa berbicara dengan lembut kepada Tarrant, mengatakan mereka memaafkannya.