Gegara Lockdown Corona, Serangan ISIS Berkurang di Banyak Negara

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 25 Agu 2020 17:40 WIB
Turki Deportasi Dua Perempuan Pendukung ISIS dan Empat Anaknya ke Jerman
Ilustrasi (DW News)
New York -

Lockdown yang banyak diterapkan selama pandemi virus Corona (COVID-19) tampaknya telah mengurangi ancaman serangan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di banyak negara. Namun risiko penyerangan masih lebih besar di Irak dan Suriah.

ISIS yang sekarang cenderung menjadi bayangan dari kelompok radikal yang beberapa tahun lalu menguasai wilayah strategis di Irak dan Suriah. Namun saat ini, ISIS diperkirakan masih memiliki sekitar 10 ribu petempur di kedua negara itu.

Kendati demikian, pembatasan pergerakan yang diterapkan untuk memerangi pandemi Corona telah mengurangi kemampuan ISIS untuk melancarkan serangan di banyak negara.

"Langkah-langkah untuk meminimalisasi penyebaran COVID-19, seperti lockdown dan pembatasan pergerakan, tampaknya telah mengurangi risiko serangan teroris di banyak negara," sebut Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk Kontra-Terorisme, Vladimir Voronkov, dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Selasa (25/8/2020).

Voronkov tidak menyebut secara spesifik di negara mana saja ancaman serangan ISIS berkurang, namun ISIS mengklaim serangan-serangan di beberapa negara mulai dari Prancis hingga Filipina.

Lebih lanjut, Voronkov menyatakan dampak pandemi Corona terhadap rekrutmen dan finansial ISIS tidak jelas. Meskipun ancaman kejahatan siber sebagai sumber pendanaan, telah meningkat karena lebih banyak orang online akibat penularan Corona.

Ditambahkan Voronkov bahwa ada bukti yang menunjukkan militan-militan ISIS berkumpul kembali di zona-zona konflik seperti Irak dan Suriah.

Voronkov juga memberikan informasi terkini soal aktivitas ISIS di lokasi lain, dengan menyebut bahwa ISIS diperkirakan memiliki 3.500 petempur di Afrika Barat dan terus menjalin hubungan dengan militan lokal.

Di Libya, jumlah militan ISIS hanya mencapai ratusan orang, namun kelompok ini tetap menjadi ancaman di kawasan tersebut. ISIS juga memiliki kapasitas untuk melancarkan serangan yang menghancurkan di beberapa bagian wilayah Afghanistan, meskipun sejumlah pemimpin ditangkap dan wilayah kekuasaan mereka berkurang.

(nvc/ita)