Skandal Korupsi di Meksiko Sulut Ketegangan Mantan Presiden

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 21 Agu 2020 02:32 WIB
Bendera Meksiko
Foto: Ilustrasi (REUTERS/Henry Romero)
Mexico City -

Skandal korupsi yang mengguncang elit politik Meksiko meningkat ketika dokumen yang bocor berisi serangkaian tuduhan kepada mantan presiden dan pejabat senior. Ketegangan meningkat antara rival politik negara itu, mantan Presiden Felipe Calderon menuduh Presiden Andres Manuel Lopez Obrador melakukan 'penganiayaan politik'.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (21/8/2020) Lopez Obrador telah meminta Calderon dan mantan Presiden Enrique Pena Nieto untuk bersaksi tentang klaim korupsi terkait raksasa konstruksi Brazil yang tercemar skandal, Odebrecht.

Tuduhan tersebut muncul selama persidangan Emilio Lozoya, mantan penasihat Pena Nieto dan mantan kepala raksasa minyak negara PEMEX.

Dalam pernyataan kepada jaksa yang bocor ke media, Lozoya mengatakan dia diperintahkan oleh Pena Nieto dan mantan Menteri Keuangan Luis Videgaray untuk menyuap anggota parlemen agar menyetujui reformasi penting.

"Enrique Pena Nieto dan Luis Videgaray mengatakan kepada saya pada Februari 2013 bahwa perlu untuk memberikan sejumlah besar uang kepada oposisi sehingga akan mendukung reformasi struktural tertentu," kata Lozoya.

Menurut dokumen itu, dia menuduh dua mantan senator dari Partai Aksi Nasional (PAN) oposisi, yang kini menjadi gubernur negara bagian, menerima suap. Keduanya membantah tuduhan tersebut.

Lozoya juga mengatakan bahwa Carlos Salinas yang menjabat sebagai presiden dari tahun 1988 hingga 1994 melobi salah satu putranya untuk menerima proyek dari PEMEX.

Di antara klaim lainnya, dia mengatakan bahwa dia memberikan lebih dari enam juta peso (sekitar 300.000 USD) kepada mantan calon Presiden PAN Ricardo Anaya, yang juga menolak tuduhan tersebut.

Lozoya menuduh bahwa selama masa jabatan Calderon 2006-2012, anak perusahaan Odebrecht diberi kondisi yang menguntungkan untuk pembangunan pabrik petrokimia. Calderon membalas di Twitter, menuduh Lopez Obrador menggunakan Lozoya 'sebagai alat balas dendam dan penganiayaan politik'.

Lopez Obrador, seorang sayap kiri yang berkuasa pada 2018 bersumpah akan melakukan gerakan anti-korupsi, mengatakan kepada wartawan bahwa dia yakin dokumen yang bocor itu asli.

"Semuanya menunjukkan bahwa ... memang pengaduan yang dia ajukan ke kantor kejaksaan," kata Lopez pada konferensi pers hariannya.

Kantor Kejaksaan Agung mengatakan sedang menyelidiki kebocoran tersebut, tetapi tidak menyangkal keaslian dokumen tersebut.

(rfs/rfs)