Publik Jepang Juluki Aktivis Hong Kong Agnes Chow 'Dewi Demokrasi'

Jabbar Ramdhani - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2020 12:06 WIB
Pro-democracy activist Agnes Chow walks out from a court in Hong Kong, Wednesday, Aug. 5, 2020. Chow appeared for sentencing after she pleaded guilty to inciting others to participate in an unlawful assembly, as well as to participating in an unauthorized assembly, related to protests in June last year.
Foto: Aktivis demokrasi Hong Kong, Agnes Chow (AP/Kin Cheung)
Jakarta -

Aktivis demokrasi Hong Kong, Agnes Chow, telah dibebaskan polisi Hong Kong dengan uang jaminan setelah sekitar 24 jam ditahan. Dia menggambarkan penangkapan atas dirinya 'sangat menakutkan'.

"Satu hal yang ingin saya katakan adalah bahwa penangkapan ini sangat menakutkan dan kejahatan (atau hukuman) ini adalah yang paling berat dari empat kali saya ditangkap. Ketika saya ditahan, lirik lagu Jepang berjudul 'Fukyowaon' selalu ada di pikiran saya," kata Chow seperti dilansir The Associated Press, Sabtu (15/8/2020).

Chow ditahan bersama sembilan orang lainnya pada Senin (10/8) terkait tuduhan penolakan undang-undang keamanan nasional baru yang diberlakukan di wilayah China oleh Beijing. Chow mengatakan akan melanjutkan aktivismenya meski situasi 'semakin sulit'.

"Ini adalah waktu yang sulit dan mungkin menjadi semakin sulit, tetapi untuk melindungi rumah saya, saya bertekad bahwa saya harus melakukan yang terbaik. Di sini, sebagai salah satu orang Hong Kong, saya akan terus melakukan yang terbaik," ujarnya.

Departemen Kehakiman dan Polisi Hong Kong belum menjelaskan secara pasti mengapa Chow ditangkap pada hari Senin, selain dari tuduhan yang tidak jelas tentang kolusi dengan orang asing.

Bukan tanpa alasan Chow membawa lagu Jepang berjudul 'Fukyowaon' saat dirinya ditahan. Lagu tersebut merupakan milik grup J-pop Keyakizaka46.

Chow memang cukup dikenal publik di Jepang. Tahun lalu, ia masuk daftar Forbes Jepang dari 50 akun media sosial paling berpengaruh di negara itu bersama sebagian besar selebriti dan tokoh masyarakat.

Seperti dilansir AFP, Chow dijuluki publik Jepang sebagai "Dewi Demokrasi" dan menemukan penggemar di antara politisi dan aktor. Namun dalam sebuah wawancara dia mengatakan tidak suka julukan itu.

Kiprah Chow dalam menguasai media, telegenik, dan fasih berbahasa Jepang, telah berhasil memotong sikap apatis relatif yang kadang-kadang dianggap sebagai urusan luar negeri di Jepang. Sosok Chow menarik perhatian yang belum pernah terjadi sebelumnya atas tindakan keras Beijing ke Hong Kong.

Setelah penangkapannya, tagar Jepang "#FreeAgnes" dan "#I protest against the arrest of Agnes Chow" dengan cepat menjadi viral. Tokoh masyarakat dari seluruh spektrum politik negara, serta penulis dan aktor, men-tweet dukungan mereka.

Tonton juga 'Aktivis Muda Prodemokrasi Dibebaskan Polisi Hong Kong':

[Gambas:Video 20detik]

Anggota parlemen dari partai yang berkuasa, Akihisa Nagashima, memposting serangkaian tweet tentang penangkapan itu, mengatakan Chow telah "menghabiskan seluruh masa mudanya untuk kebebasan dan demokrasi Hong Kong".

Anggota parlemen oposisi Renho, yang menggunakan satu nama, aktris Sayaka Akimoto dan penulis olahraga Hirotada Ototake termasuk di antara yang memuji aktivis tersebut dan mengutuk penangkapannya.

"Dia masih muda tapi dia berani," tulis salah satu pengguna Twitter, dengan banyak yang memuji kemampuan bahasa Jepang Chow.

(jbr/dkp)