Kementerian Luar Negeri Lebanon Sempat Diambil Alih Massa Demonstran

Arief Ikhsanudin - detikNews
Minggu, 09 Agu 2020 03:52 WIB
This picture taken on August 8, 2020 shows an aerial view of the demonstration in downtown Beirut against a political leadership they blame for a monster explosion that killed more than 150 people and disfigured the capital Beirut. (Photo by - / AFP)
Foto: Masa demonstrasi di Beirut, Lebanon usai ledakan yang menewaskan 150 orang (AFP/-).
Jakarta -

Kementerian Luar Negeri Lebanon sempat diambil alih massa demonstran. Mereka masuk dan sempat mengobrak-abrik kantor Kementerian Luar Negeri.

Awalnya, "kami ada sekitar 100," kata salah satu pensiunan perwira militer yang memimpin pengambilalihan, Tony Kayrouz, seperti dilansir AFP, Minggu (9/8/2020).

"Ada beberapa polisi yang menjaga gerbang, mereka membukanya, dan kami masuk, tidak ada bentrokan," kata Kayrouz kepada AFP.

Pengambil alihan Kementerian Luar Negeri dilakukan oleh kelompok pensiunan perwira yang dipimpin oleh Samer Rammah. Aksi demonstrasi merupakan kekecewaan terhadap Presiden Michel Aoun.

"Presiden Michel Aoun tidak menghormati sumpahnya," kata Samer Rammah.

"Aku punya harapan di Aoun. (Tapi sekarang), republik ini dijalankan seperti ladang," ujarnya.

Rammah dan pensiunan perwira militer telah menjadi andalan gerakan protes yang dimulai pada Oktober untuk menuntut penghapusan kelas politik yang dianggap tidak kompeten dan korup.

Demonstran di kementerian membentangkan spanduk yang menutupi seluruh fasad bangunan. "Beirut, ibu kota revolusi," bunyinya.

"Selamat, kami telah merebut kembali kementerian," seorang pengunjuk rasa bersukacita.

Di bawah ukiran dinding yang elegan, para pengunjuk rasa menarik potret Aoun dari dinding dan membantingnya ke tanah. Massa lalu berulang kali menginjak potret Aoun.

Pengunjung menikmati pengambilalihan tersebut, berpose di belakang mimbar yang biasanya digunakan untuk konferensi pers diplomatik. Lainnya berjalan ke ruang konferensi dan kantor, di mana mereka mengambil foto selfie.

Tapi pengambilalihan kementerian luar negeri terhenti ketika bala bantuan tentara yang besar datang. Memaksa semua demonstran untuk keluar dari Kementerian Luar Negeri.

Diketahui, demonstrasi ini dilakukan pasca-ledakan pada Selasa (4/8). Dalam ledakan itu menewaskan lebih dari 150 jiwa, dan melukai sedikitnya 5.000 orang.

(aik/aik)