Round-Up

Saat Ribuan Umat Salat Jumat Perdana di Hagia Sophia

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 22:06 WIB
Salat Jumat pertama diselenggarakan di Hagia Sophia hari ini. Jemaah pun memadati halaman masjid jelang pelaksanaa Salat Jumat.
Foto: Umat muslim di Hagia Sophia (AP Photo)
Ankara -

Salat Jumat pertama digelar di Hagia Sophia, gedung berusia 1.500 tahun yang semula adalah katedral yang dijadikan masjid dan kemudian museum. Salat Jumat ini dihadiri ribuan umat muslim.

Seperti dilansir BBC, Jumat (24/7/2020) sekitar 1.000 orang diperkirakan mengikuti salat Jumat pertama dalam 86 tahun. Tampak umat muslim memenuhi pelataran Hagia Sophia saat salat Jumat.

Pada 1934, di bawah kepemimpinan Presiden Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern, setelah jatuhnya Ottoman, masjid itu dijadikan museum.

Lukisan dan ornamen Kristiani akan ditutup tirai dengan menggunakan mekanisme khusus selama waktu salat tetapi tetap akan dipajang.

Gedung ini dibangun pada abad keenam sebagai katedral namun dijadikan masjid pada 1453 ketika Ottoman, biasa disebut juga dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, di bawah Mehmed II atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istanbul.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoan mengundang Paus Fransiskus untuk menghadiri pembukaan masjid, lapor kantor berita Anadolou. Namun belum ada laporan bagaimana tanggapan Paus.

Tanggal 12 Juli lalu, Paus mengatakan "sangat sedih" atas keputusan Turki menjadikan Hagia Sofia kembali menjadi masjid.

Paus sendiri mengunjungi Hagia Sophia dalam kunjungan ke Turki pada 2014. Salat Jumat pertama akan dipimpin oleh Ali Erba ketua direktur keagamaan, lapor harian Turki Hrriyet.

Hrriyet melaporkan mosaik dan lukisan Kristiani akan ditutup tirai selama salat Jumat dan waktu salat lain.

Sementara itu, dilansir Reuters, Jumat (24/7/2020), beberapa organisasi Islam di Turki berjuang untuk kembali mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Anatolian Youth Association (AGD) Genc mengadakan protes dan mengorganisir doa di luar Hagia Sophia yang berusia 1.500 tahun itu.

Sementara kelompok lain melakukan serangkaian upaya hukum yang gagal hingga pengadilan tinggi Turki pada bulan lalu akhirnya memutuskan mendukung mereka dan membatalkan status Hagia Sophia sebagai museum.

Presiden Turki, Tayyip Erdogan pun akan meresmikan bangunan itu menjadi masjid dengan salat Jumat yang digelar pada Jumat (24/7). Turki mengatakan situs itu akan tetap terbuka untuk pengunjung dan karya seni Kristennya dilindungi.

"Kami berjuang untuk ini selama bertahun-tahun," kata Yunus Genc di depan masjid, yang kubah abu-abu besar dan dinding-dinding berwarna merah tua serta penopang telah menandai garis langit kota selama satu setengah milenium, kemudian bergabung dengan empat menara yang menjulang tinggi.

Kelompok AGD Genc adalah cabang dari sebuah gerakan yang didirikan oleh perdana menteri Islam pertama Turki Necmettin Erbakan, yang partai politiknya merupakan cikal bakal Partai AK yang telah memerintah Turki di bawah kepemimpinan Erdogan selama 17 tahun.

Pada waktu itu Erdogan telah membentuk kembali Republik Modern Turki, yang didirikan hampir seabad yang lalu oleh Mustafa Kemal Ataturk, seorang sekularis yang kukuh, mencabut larangan jilbab Muslim di depan umum, mempromosikan pendidikan agama dan menjinakkan militer Turki yang berkuasa, yang pernah menjadi benteng nilai-nilai sekuler Ataturk.

Di tengah kekacauan dan pemberontakan yang mengguncang Timur Tengah sejak 2011, Erdogan juga berusaha memposisikan Turki sebagai kekuatan regional dan juara Muslim Sunni. Langkah Hagia Sophia adalah tanda menuju "mencapai kebebasan" untuk masjid al-Aqsa di Yerusalem, kata Erdogan awal bulan ini.

(rdp/rdp)