Kolom

Hagia Sophia, Masjid Cordoba, dan Menara Kudus

Muhammad Akmaluddin - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 11:05 WIB
Kompleks menara, masjid, dan makam Sunan Kudus, di Kudus, Jawa Tengah.
Kompleks menara, masjid, dan makan Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah (Foto: Dian Utoro Aji)
Jakarta -

Hagia Sophia menjadi topik hangat sejak statusnya sebagai museum diubah kembali menjadi masjid pada 10 Juli 2020. Status dan fungsinya yang berubah-ubah dari masa ke masa menuai berbagai dukungan dan kecaman, baik dari muslim maupun non-muslim, ataupun dari Timur maupun Barat. Bangunan tersebut meraup sekitar 72 miliar dolar AS pada 2018 menurut kolumnis kanal berita Dunya, Kerim Ülker (13/7). Sedangkan menurut Hurriyet Daily News (22/11/2019), pengunjungnya sebanyak 31 juta jiwa sejak 2007.

Bangunan yang berseberangan dengan Masjid Biru Sultanahmet itu menjadi simbol dan saksi bisu perjalanan lintas iman. Keindahan bangunannya pun dijadikan model bagi masjid-masjid besar Dinasti Utsmaniyyah. Misalnya Masjid Sultanahmet, Masjid Sulaimaniyyah, Masjid Fatih, dan lainnya. Sejarah Hagia Sophia tidak terlepas dari penaklukan Constantinople pada 1453 oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Penaklukan tersebut secara tidak langsung telah mengubah status resmi agama dan kebudayaan yang ada, termasuk status bangunan Gereja Hagia Sophia yang kemudian dijadikan masjid.

Di belahan dunia bagian barat, terjadi hal yang sebaliknya. Penaklukan Al-Andalus oleh kerajaan-kerajaan Katholik, yang mencapai puncaknya pada 1492, mengubah banyak masjid menjadi gereja. Masjid-masjid di berbagai daerah, termasuk Masjid Jami' Córdoba, diubah menjadi gereja. Di samping itu, madrasah dan makam para tokoh dan ulama muslim diratakan tanah untuk jalan, bangunan, dan monumen baru oleh para penguasa Katholik.

Penaklukan daerah dan alih fungsi bangunan ibadah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam sejarah abad pertengahan. Jika ada daerah yang dikuasai dan ditaklukkan, hampir bisa dipastikan ada alih fungsi bangunan ibadah. Terlebih bila penaklukan itu terjadi di daerah periferal, yang jauh dari pusat Islam ada di Timur Tengah. Misalnya yang terjadi di Constantinople dan Al-Andalus.

Gereja dan Kuil Jadi Masjid

Masjid Jami' Córdoba dulunya adalah Gereja Katholik Basilika Saint Vincent dari Lérins yang dimiliki bangsa Visigoth. Kedatangan Abd al-Rahman al-Dakhil di Al-Andalus menjadikan gereja tersebut sebagai masjid pada 784. Setelah dikuasai umat Katholik lagi dalam agenda reconquista (penaklukan kembali wilayah yang dikuasai umat Islam) pada 1236, bagian tengah Masjid Córdoba diubah menjadi Gereja Katedral. Bagian pinggir-pinggirnya menjadi kapel-kapel yang berjumlah 36 buah, satu mihrab, dan sekarang ditambah dua toilet di sebelah mihrab.

Nasib Hagia Sophia juga seperti itu. Dulunya adalah gereja, yang kemudian diubah menjadi masjid pada 1453. Kemudian menjadi museum pada 1935 dan menjadi masjid lagi pada 2020.

Di India juga terjadi hal yang serupa. Masjid Alamgir atau Masjid Aurangzeb dibangun diatas kuil Bindu Madhav (Nand Madho) pada 1682. Masjid Babri dibangun di Ram Janmabhoomi, yang dianggap sebagai tanah kelahiran Dewa Rama, pada 1527. Masjid Babri kemudian dihancurkan pada 6 Desember 1992. Di Prancis, Katedral Toulon juga pernah digunakan sebagai masjid oleh Dinasti Utsmaniyyah pada 1543-1544. Masjid Umayyah di Damaskus, Suriah dibangun pada 634 di atas Gereja Basilika John the Baptist yang sebelumnya merupakan Kuil Jupiter milik kaum Pagan Romawi.

Masjid Jadi Gereja

Belakangan, Turki juga menggugat bangunan peninggalan dinasti Utsmaniyyah seperti masjid, madrasah, makam, dan lainnya yang telah beralih fungsinya menjadi gereja dan bangunan lain. Hal tersebut merujuk pada penelitian arsitek senior Turki, Mehmet Emin Yilmaz yang mengatakan kepada Anadolu Agency (17/7) bahwa dia telah meneliti dan melacak bangunan milik Turki selama 10 tahun.

Ada 329 bangunan arsitektur milik Turki yang berubah menjadi gereja, tersebar di 18 negara seperti Aljazair, Ukraina, Crimea, Georgia, Armenia, Bosnia dan Herzegovina, Siprus, Kroasia, Kosovo, Makedonia, Moldova, Romania, dan Turki. Di Yunani sendiri ada lima menara yang menjadi menara lonceng gereja. Dengan data tersebut, Turki ingin mengukuhkan bahwa alih fungsi Hagia Sophia adalah kedaulatan dan wewenang negaranya sebagaimana alih fungsi masjid yang dilakukan negara lain.

Jalur Damai di Nusantara

Terlepas dari berbagai motif yang ada, perubahan tersebut adalah ujian yang berat bagi mereka yang menganggap dirinya beriman kepada agama masing-masing. Tempat ibadah yang dulunya dipakai untuk beribadah kepada Tuhan mereka malah diambil oleh musuh mereka. Tidak hanya itu, tempat itu dijadikan tempat ibadah oleh kaum yang mereka anggap sebagai kaum kafir.

Dengan demikian, alih fungsi tempat ibadah suatu agama menjadi tempat ibadah agama lain menyisakan konflik yang akan terus selalu diingat selama bangunan tersebut masih berdiri dengan kokoh. Konflik tersebut akan berkelanjutan dan dijadikan komoditas politik bagi para penguasa sepanjang masa untuk meraih dukungan umat beriman.

Oleh karena itu, para Walisongo yang memperjuangkan Islam di Nusantara melakukan pendekatan alternatif dan pasifis. Tidak ada ambil alih, ubah fungsi, maupun penghancuran tempat ibadah orang lain. Namun mereka malah membangun masjid, pemakaman, dan gapura yang arsitekturnya menyerupai candi Hindu. Misalnya Masjid Menara Kudus. Alih-alih mengambil jalan konflik dan konfrontasi, Sunan Kudus memilih jalur damai dan akulturasi budaya.

Tidak berhenti di situ, beliau juga memerintahkan umat Islam agar tidak menyembelih sapi pada Hari Raya Idul Adha. Pasalnya, sapi adalah hewan yang dimuliakan umat Hindu, yang pada saat itu jumlahnya masih banyak di Kudus. Arsitektur bangunan yang mirip Masjid Menara Kudus misalnya adalah Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan Tahunan Jepara, Masjid Wali Loram Kulon Jati Kudus dan Masjid Wali Jepang Mejobo Kudus.

Dinasti Utsmaniyyah memang kemudian menjadikan arsitektur Hagia Sophia sebagai model utama bagi masjid di sana. Namun status Hagia Sophia yang beralih fungsi membuat sejarah yang berbeda dengan Masjid Menara Kudus. Merusak, menghancurkan dan mengambil alih tempat ibadah orang lain hanya akan menyisakan dendam dan konflik yang tidak pernah selesai.

Muhammad Akmaluddin peneliti Al-Andalus dan anggota Lajnah Ta'lif wa Nasyr (LTN) PWNU Jawa Tengah

(mmu/mmu)