Round-Up

Telepon Presiden Ukraina di Balik Bebasnya 13 Sandera

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 21:03 WIB
A policeman brings water for hostages contained in a bus after an armed man seized the long-distance bus and took some 10 people hostage in the city centre of Lutsk, some 400 kilometers (250 miles) west of Kyiv, Ukraine on Tuesday July 21, 2020. The assailant is armed and carrying explosives, according to a Facebook statement by Ukrainian police. Police officers are trying to get in touch with the man and they have sealed off the area. (Ukrainian Police Press Office via AP)
Foto: Penyanderaan penumpang bus di Ukraina (Ukrainian Police Press Office via AP)
Ukraina -

Detik-detik pembebasan 13 sandera penumpang bus di Ukraina selama 12 jam lebih berlangsung dramatis. Pembebasan ini tak terlepas dari peran Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Pelaku penyanderaan pun ditangkap setelah Presiden Volodymyr Zelensky setuju memenuhi permintaan pelaku yang aneh, yakni memposting rekomendasi film di akun media sosialnya.

Seperti dilansir AFP, Rabu (22/7/2020), dinas keamanan Ukraina, SBU, menyatakan bahwa operasi gabungan berujung pada pembebasan seluruh sandera tanpa ada korban jiwa dalam aksi penyanderaan yang berlangsung di kota Lutsk pada Selasa (21/7) waktu setempat. Pelaku penyanderaan sempat mengancam akan meledakkan bom jika permintaannya yang tergolong aneh, dipenuhi.

Tayangan video dari lokasi kejadian menunjukkan sebuah bus berwarna biru-putih dengan kaca jendela pecah dan tirai ditutup, dengan dikepung banyak polisi. Pihak kepolisian sebelumnya menyebut ada 20 sandera di dalam bus tersebut, namun ternyata ada 13 sandera.

Pelaku sempat melepas tembakan dan melemparkan sebuah paket peledak ke ruas jalanan. Insiden ini terjadi di kota Lutsk yang berjarak 400 kilometer dari ibu kota Kiev. Para sandera berada di dalam bus sejak pagi hari, pukul 09.00 waktu setempat, tanpa akses pada makanan maupun akses ke toilet.

Pelaku awalnya menyebut dirinya sebagai Maksym Plokhoy. Namun polisi mengidentifikasinya sebagai Maksym Kryvosh (44) yang pernah mendekam di penjara selama 10 tahun atas berbagai tindak pidana. Sebuah akun Twitter dengan nama Kryvosh yang kini dihapus, mengklaim dirinya bersenjata lengkap, termasuk membawa bom, dan menuntut tokoh top Ukraina untuk menyampaikan pesan anti-kemapanan via media sosial.

Selanjutnya
Halaman
1 2