Ribuan Warga Desak PM Israel Mundur terkait Penanganan Corona dan Korupsi

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 10:40 WIB
Demonstrators hold signs during a protest against Israels Prime Minister Benjamin Netanyahu in front of the Knesset, Israels parliament in Jerusalem, Tuesday, July 21, 2020. Thousands of Israelis marched back to Netanyahus official residence after protesting outside the Knesset, the countrys parliament. (AP Photo/Ariel Schalit)
Bibi merupakan nama panggilan PM Israel Benjamin Netanyahu yang didesak mundur oleh warganya (AP Photo/Ariel Schalit)
Tel Aviv -

Ribuan warga Israel melakukan unjuk rasa di luar kediaman resmi Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Aksi protes ini merupakan akumulasi dari kritikan terhadap cara Netanyahu menangani pandemi virus Corona (COVID-19) dan terkait kasus korupsi yang menjeratnya.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (22/7/2020), sekitar 2 ribu demonstran menggelar unjuk rasa sambil memakai masker di tengah pandemi Corona. Para demonstran melakukan long-march dari kediaman Netanyahu menuju gedung parlemen Israel atau Knesset, kemudian kembali lagi ke kediaman PM Israel itu.

Dalam aksi protes ini, tampak beberapa demonstran membawa poster bertuliskan 'Menteri Kriminal' dan menyerukan agar Netanyahu yang sudah menjabat PM Israel selama lima periode itu untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Pemberlakuan kembali pembatasan sosial setelah terjadi kenaikan jumlah kasus Corona telah mendorong warga Israel untuk menuntut bantuan yang lebih baik dari pemerintah. Warga pun memilih turun ke jalanan untuk ikut dalam unjuk rasa yang digelar nyaris setiap hari.

Kemarahan publik juga dipicu oleh kasus korupsi yang menjerat Netanyahu. Diketahui bahwa dia menjalani sidang pada Mei lalu, atas tuduhan penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan. Netanyahu menyangkal tuduhan korupsi dan masih aktif menjabat meski terjerat kasus.

Netanyahu telah mengumumkan berbagai paket bantuan ekonomi untuk warga. Namun frustrasi akibat birokrasi dan lambannya proses penyaluran bantuan, banyak warga Israel menganggap bantuan itu terlalu sedikit dan sudah terlambat.

"Ini memalukan dan sungguh menghina. Anda membayar jaminan sosial dan pajak selama 30 tahun dan kemudian harus memohon (pada pemerintah) agar memenuhi kebutuhan. Saya di sini untuk melakukan protes, agar pemerintahan jahat ini berhenti," tegas salah satu demonstran bernam Doron (54).

Dia tidak memberikan nama lengkapnya dan mengakui dirinya sudah tidak mendapat gaji selama tiga bulan.

Selanjutnya
Halaman
1 2