China Hadapi Cluster Baru Corona di Xinjiang

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 18 Jul 2020 11:36 WIB
Pemerintah China klaim kamp di Xinjiang, China, tawarkan pelatihan sukarela bagi etnis Uighur. Namun, dokumen rahasia yang bocor ke publik berkata sebaliknya.
Ilustrasi -- Situasi di Xinjiang, China (AP Photo)
Beijing -

Otoritas China tengah menghadapi kemunculan cluster baru virus Corona (COVID-19) di wilayah Xinjiang, China. Sedikitnya sudah 17 kasus Corona tercatat muncul di Xinjiang dalam beberapa hari terakhir.

Seperti dilansir Associated Press, Sabtu (18/7/2020), Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan 16 kasus Corona di antaranya tercatat di Xinjiang dalam 24 jam, atau sepanjang Jumat (17/7) waktu setempat. Angka ini melonjak drastis dibandingkan satu kasus yang tercatat sebelumnya di Xinjiang.

Secara nasional, seperti dilansir Reuters, NHC melaporkan 22 kasus baru Corona dalam sehari di wilayah China daratan. Selain 16 kasus baru muncul di Xinjiang, enam kasus lainnya merupakan kasus impor atau penularan di luar negeri.

Dengan tambahan itu, total 83.644 kasus Corona kini terkonfirmasi di China, dengan kematian mencapai 4.634 orang.

Kemunculan cluster penularan baru di Urumqi, Xinjiang ini terjadi saat otoritas China daratan telah mengatasi sebagian besar kasus penularan domestik di wilayahnya. Sebelum di Xinjiang, cluster penularan terbesar ada di sebuah pasar di Beijing yang menginfeksi lebih dari 330 orang dalam beberapa pekan.

Sumber penularan untuk cluster baru Corona di Xinjiang ini tidak diketahui pasti.

Sebagai antisipasi, otoritas Urumqi mengambil sejumlah langkah pembatasan seperti mengurangi layanan kereta bawah tanah, bus dan taksi, serta menutup akses di beberapa area permukiman setempat. Tidak hanya itu, menurut laporan media lokal, otoritas Urumqi juga membatasi jumlah orang yang keluar dari wilayahnya.

Xinjiang selama ini dikenal sebagai tempat tinggal sebagian besar etnis minoritas muslim Uighur, yang dilaporkan mengalami penindasan oleh pemerintah China. Wilayah Xinjiang yang berada di area barat jauh China memiliki pengamanan ketat yang ekstrem, yang oleh China dianggap perlu untuk mencegah aktivitas teroris. Beberapa kelompok etnis minoritas lainnya juga tinggal di wilayah ini.

(nvc/rdp)