Banjir di China Tewaskan 141 Orang Sejak Juni

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 13 Jul 2020 18:07 WIB
In this photo released by Xinhua News Agency, a man paddles with an inflatable boat past submerged cars during a flood in Rongshui County in southern Chinas Guangxi Zhuang Autonomous Region, Saturday, July 11, 2020. Vice Minister of Emergency Management Zheng Guoguang told reporters Monday, July 13, 2020 that the Yangtze River and parts of its watershed have seen the second highest rainfall since 1961 over the past six months. (Long Linzhi/Xinhua via AP)
Situasi di Guangxi Xhuang, China yang dilanda banjir (Long Linzhi/Xinhua via AP)
Beijing -

Otoritas China melaporkan 141 orang tewas atau hilang akibat banjir yang menerjang puluhan wilayahnya sejak bulan Juni lalu. Sedikitnya 29 ribu rumah warga hancur akibat banjir yang dipicu oleh hujan deras dengan curah hujan tertinggi kedua dalam setengah abad terakhir.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (13/7/2020), Wakil Menteri Pengelolaan Urusan Darurat, Zheng Guoguang, menuturkan bahwa secara virtual seluruh wilayah China daratan telah terdampak banjir, kecuali area barat yang jauh seperti Tibet dan Xinjiang.

Sungai Yangtze, yang merupakan sungai terpanjang di Asia dan sebagian daerah aliran sungainya mengalami curah hujan tertinggi kedua sejak tahun 1961, dalam enam bulan terakhir. Curah hujan yang tinggi ini memicu meluapnya air sungai yang memicu banjir secara luas.

"Sekitar 38,73 juta orang dari 27 provinsi dan wilayah telah terdampak banjir, dengan 141 tewas atau hilang," sebut Zheng dalam pernyataannya. "Sekitar 29 ribu rumah ambruk," imbuhnya.

Banjir telah menggenangi kota-kota di wilayah China bagian selatan dan tengah. Situasi ini memicu para petugas darurat untuk meninggikan tanggul dan menggali saluran baru untuk melepaskan luapan air.

Zheng menyebut bahwa banjir membuat ketinggian air di sebanyak 433 sungai melebihi level peringatan, dengan 33 sungai di antaranya mencatat ketinggian air yang mencetak rekor.

Selain Sungai Yangtze, sejumlah sistem sungai dan danau besar lainnya di China juga meluap, termasuk Sungai Kuning di wilayah utara, Zhujiang di wilayah selatan dan Taihu -- danau air tawar terbesar di China -- yang terletak di sebelah barat Shanghai.

Kerusakan akibat banjir ini diperkirakan mencapai ratusan juta dolar Amerika, yang semakin menambah tekanan pada perekonomian yang terdampak parah oleh pandemi virus Corona (COVID-19), termasuk karena adanya lockdown dan hilangnya pasar luar negeri.

Provinsi Hubei, yang dilalui Sungai Yangtze dan dikenal dengan banyaknya danau dan sungai sebagai tujuan wisata, berada di bawah ancaman khusus. Ibu kota provinsi itu, Wuhan, merupakan titik nol pandemi Corona, dengan kini sebagai besar kasus telah teratasi.

"Kerugian ekonomi secara langsung mencapai 86,16 miliar Yuan," ucap Zheng. "Lebih dari 2 juta orang dievakuasi dan 516 ribu hektare lahan pertanian terdampak tanpa bisa panen," tandasnya.

(nvc/ita)